pemiludamaifoto: vivanews

Detikpemilu beberapa menit lalu memberitakan “Sindiran Menohok Didepan Mata“, yang intinya mengkritik Monolog Butet Kartaradjasa pada acara Deklarasi Pemilu Damai yang diadakan KPU kemarin malam. Sindiran Butet dianggap terlalu menusuk dan langsung kedepan muka orangnya.

Berikut kutipan dari artikel detik:

Monolog yang gayeng itu pun berlanjut hingga satu demi satu sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa, SBY dilontarkan di depan SBY sendiri, tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

“Kemarin ada Hercules jatuh, sampai-sampai ada anekdot di luar yang mengatakan, wah pesawat Indonesia nggak usah dipakai perang pada jatuh sendiri,” sindir Butet.

Mendengar sindiran butet yang langsung dilihatnya di depan mata, raut muka SBY tampak menahan marah. Padahal sebelumnya, SBY banyak mengumbar senyum lantaran terhibur oleh penampilan putra Bagong Kusudiharjo ini. Sementara, para hadirin lainnya tertawa terpingkal-pingkal.

Berikutnya, Partai Demokrat pun ikut menyatakan kekecewaannya pada terlalu frontalnya monolog Butet. Pernyataan kekecewaan itu dikeluarkan oleh Marzuki Alie, Sekjen Partai Demokrat:

Arena yang seharusnya menonjolkan suasana damai tetapi terjadi provokasi. Membuat masyarakat terprovokasi

KPU pun juga merasakan hal yang sama:

Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga menyesalkan tindakan Butet. Namun, meski menyesalkan, KPU menganggap penampilan Butet wajar karena memang tidak ada aturan khusus dalam penampilan seni budaya oleh para capres-cawapres.

“Memang seyogyanya hari ini adalah kampanye damai tidak menimbulkan perasaan tidak enak pada orang lain,” kata Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary.

Dalam atmosfer demokrasi, hal yang semacam ini memang wajar dan sudah seharusnya diantisipasi. Apalagi yang diundang adalah Butet, seorang yang memang dari dulu terkenal vokal dan berani dalam menyuarakan pendapatnya.

Sebagai contoh di Amerika Serikat dua tahun lalu dalam acara makan malam asosiasi jurnalis gedung putih yang dihadiri Presiden AS George W. Bush, komedian Stephen Colbert dalam sesi lawakan stand-up-nya tak henti-henti menyindir pemerintahan Bush. Tidak tanggung-tanggung, Colbert bahkan menyinggung isu Irak dan kenyataan bahwa disana sebenarnya tidak ada senjata pemusnah masal. Jadi, ya, sekali lagi, dalam atmosfer demokrasi, yang seperti ini tak perlu terlalu diributkan.

Lagipula, acara-acara deklarasi “kampanye damai” seperti ini apakah memang masih diperlukan? Karena kenyataannya toh para Capres berkampanye tidak dengan damai. SBY menyindir Kalla sebagai pengusaha, Kalla menyindir SBY kurang cepat dalam mengambil keputusan. Mega-Pro? Jangan tanya.

Jadi harusnya yang perlu dipertanyakan bukan lagi segi moralitas seorang penampil monolog yang diundang resmi oleh panitia, tapi kenyataan bahwa yang dideklarasikan itu, nyata-nyata tidak dijalankan di lapangan.

UPDATE: Makasih untuk Herman Saksono yang udah memberikan koreksi. :) Memang benar di acara pertemuan jurnalis gedung putih tiap tahunnya selalu ada sesi roasting, tapi dari tahun-ketahun belum pernah ada pelawak yang secara langsung melakukan roasting separah Stephen Colbert. Ini sempat jadi kontroversi, dan setahun setelah Colbert muncul, ia memang tak lagi diundang. Tahun ini, yang diundang oleh Obama adalah komedian Wanda Sykes, dan sasaran lawak lebih diarahkan ke kaum konservatif, lawan terbesar Obama yang dari Demokrat.

Posted in News, Pandangan Pribadi, Political Asset, Serius, Writings at June 11th, 2009. - Vote Artikel ini di LintasBerita

stone

Ini cuma sekedar catatan pendek aja, sekalian pesan untuk masa depan, bertepatan dengan hari ini gw genap setahun lebih tua. :D

Kadang masalah begitu banyak,ribuan kerikil setiap hari datang. Yang kita lakukan adalah tendang, tendang, dan ia pun menjauh, dan hilang. Kita pun dibuat lupa, walau untuk sementara.

Kalau di jalanan mungkin gak masalah. Tapi kerikil yang ini berbeda. Yang ini punya kemampuan khusus menggandakan diri kalau ditendang. Dan area tendangannya pun segi empat, seperti kotak. Jadi mereka selalu terperangkap di pojok, membukit membentuk gunungan.

Lalu tiba-tiba kita mencetak prestasi besar, sebesar topan badai. Kerikil-kerikil itu pun hilang terhisap didalamnya, tidak jelas, menghitam dan berputar. Kita tenang, karena entah kenapa topan ini terasa seperti semilir sejuk yang paling parah hanya berakibat rambut berantakan.

Sayangnya, semua topan tentu ada habisnya.

Dan saat akhir itu datang, segala kerikil akan jatuh ke segala penjuru, menyerang, menghujam dan melukai kulit terluar kita.

Karena itu, gw pikir, saat kerikil bermunculan, jangan fokus pada menendang, fokus pada membuang. Atau malah jangan membuang, tapi daur ulang. Cari cara mengubah masalah menjadi anugerah.

Sehingga paling gak tahun depan jalan hidup gw gak akan dipenuhin kerikil-kerikil lagi. :)

Posted in Gak Tahu, Personal, Serius, Suara Hati, Writings at June 11th, 2009. - Vote Artikel ini di LintasBerita

censorship-1Entah kita ini memang bangsa merdeka yang menjunjung Demokrasi berpendapat atau orang-orang munafik anti-kritik yang berlindung dibalik kenyamanan hukum otoritarianisme. Setelah kasus Prita yang menarik perhatian sangat besar dari media karena ramainya pemberitaan di internet dan kampanye pembebasan yang sukses berjalan di Facebook, kini muncul lagi kasus yang hampir sama.

Seorang guru yang mengajar sekolah kejuruan terancam dipecat dan dilaporkan ke polisi karena menulis kritik terhadap pemerintah daerah Kotambuagu, Sulawesi Utara yang dianggapnya telah melakukan “korupsi waktu”. Yang lucu, tuntutan terhadapnya telah dilimpahkan ke Kejari Kotambuagu dengan menggunakan Undang-Undang Informasi & Transaksi Elektronik.

Yang menurut beberapa orang belum selesai set peraturan pemerintahnya, sehingga sebenarnya belum boleh digunakan, hingga 2010.

Berikut laporan Suara Merdeka:

Indra mengaku kalau dirinya telah membuat tulisan lewat blog-nya di facebook, yang menyebutkan kalau Pemerintah Kota Kotamubagu telah melakukan korupsi waktu dan dia pun tak menyangka tulisan itu membuat pemerintah kota menjadi berang.

Sementara kabar yang beredar, kausus terebut telah masuk tahap satu dan saat ini sudah dilakukan pelimpahan berkas ke Kejaksaan Negeri Kotamobagu, dengan menggunakan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektroik dengan ancaman enam tahun penjara. “Laporan sudah kami terima dan kasusnya telah dilimpahkan ke kejaksaan,” ungkap Kapolsek Kotamubagu Iptu Muhammad Monoarfa SSos.

Apa Kejaksaan Negeri sadar bahwa UU ITE belum boleh digunakan? Atau UU ITE memang sudah boleh digunakan saat ini? Ada yang bisa menjelaskan?

Yang lebih penting lagi, munculnya satu-demi-satu kasus tuntutan pencemaran nama baik dan penuntutan, terlepas menggunakan UU ITE atau KUHP melahirkan pertanyaan di kalimat pertama tulisan ini. Mengingat pasal pencemaran nama baik di KUHP sendiri adalah sisa-sisa jajahan Belanda dan alat mereka mengekang opini, kok rasanya, kita seperti menjajah diri sendiri ya?

twit5

Posted in Pandangan Pribadi, Political Asset, Serius, Writings at June 9th, 2009. - Vote Artikel ini di LintasBerita

ganyang

Ada beberapa alasan kita saat ini begitu emosi melihat Ambalat dilewati, dimasuki dan dilanggar kedaulatannya, sebagai salah satu bagian daerah dari NKRI oleh Malaysia.

Pertama adalah rasa tersinggung. Rasa dilanggar, rasa diinjak-injak oleh negara tetangga yang lebih kecil, yang selalu dianggap anak bawang –walau ratusan ribu warga negara kita mencari makan disana-.

Kedua, kita malu, karena kita tidak percaya diri. Pasti semua pernah merasakan saat merasa kurang nyaman, kurang pede dengan tempat kita berada, segala omongan dan aksi orang-orang disekitar kita akan jadi mencurigakan. Ditanya umur jadi bertanya-tanya apa baju yang kita kenakan membuat kita terlihat tua. Ditanya postur tubuh apalagi. Terlebih untuk orang yang posturnya, kalau diekspresikan dengan kata halus orang timur “sehat”. Bisa langsung kabur ke kamar mandi.

Masalahnya wajar kita tidak percaya diri. Kita tahu militer kita secara alutsista lemah. Beberapa minggu lalu Hercules jatuh, dan begitu banyak keributan tentang bagaimana buruknya alutsista kita muncul di media. Entah itu legal atau tidak. Kalau kata Panglima TNI sih illegal. Harusnya segala sesuatu tentang keburukan TNI, menjadi rahasia TNI. Apalagi tentang detail alutsista dan postur pertahanan kita yang buruk. Begitu katanya. Mereka tentu tak nyaman jadi olok-olok di medan perang. Apalagi yang bertugas di perbatasan, yang kabarnya harus berbagi makanan dengan tentara negara lain karena stok dan kiriman makanan yang kecil dan jarang datang. Kalaupun datang isinya hanya nasi dan ikan asin. Tak secanggih makanan kalengan negara yang sekarang sedang kita musuhi dengan segenap hati.

Ada yang bilang rasa tidak percaya diri bisa meningkatkan kemungkinan ketersinggungan. Rasa-rasanya sih benar. Itu untuk individual, untuk masing-masing pribadi. Bisa bayangkan efek kurangnya rasa percaya diri pada suatu negara. Contoh terbesar, walau agak jauh, mungkin Amerika. Bush, pada 2001 seperti syok bahwa pertahanan mereka bisa ditembus. Dengan mudah pesawat bisa dibajak dan diterbangkan ke gedung kembar yang gedenya gak ketulung-tulung. Pesawat itu pun besar, tapi beberapa teroris Arab berhasil masuk dan menghancurkan kedua-duanya.

Mendadak kestabilan, kemegahan dan keberhasilan Amerika seperti dihancurkan. Dan kita bisa lihat, rasa tidak percaya diri Bush pada sistem pertahanannya menimbulkan Doktrin Bush. Sebuah doktrin yang berteriak “serang dulu sebelum kita diserang” mengarahkannya ke tempat yang salah. Iraq yang dituju, padahal Bin Laden selalu berputar-putar di Afghanistan dan Pakistan. Jutaan orang harus tewas demi entah apa, dan biang pelakunya sampai sekarang belum tertangkap.

Mungkin juga justru kita terlalu percaya diri. Toh dua paragraf sebelum paragraf ini masih bisa dibaca dengan normal dan masuk diakal dengan mengganti kata “tidak” atau “kurang” dengan “terlalu”. Seperti tempat terjauh pantulan pendulum, posisi moral rakyat kita melihat masalah Ambalat. Itu setidaknya yang gw lihat sehari-hari. Antara yang takut kita kalah perang, tapi masih ingin perang demi nasionalisme –toh kita dulu menang hanya bermodalkan bambu tajam- dan yang berapi-api ingin perang karena Malaysia sudah kelewatan. Kata mereka, dengan jumlah pasukan kita yang jauh lebih banyak, kita pasti menang.

Alasan-alasan diatas tentu wajar dan bisa dimengerti. Gw pun mengerti dan hanya bisa ikut memanas-manasi situasi apabila ada obrolan seru soal Ambalat di sekeliling gw. Euforia penyatu rakyat sebesar ini memang entah kenapa seperti dirindukan Mahasiswa. 1998 seperti tahun terakhir saat demonstrasi dipandang sebagai pemersatu opini. Kini semuanya terfraksi, dan kebanyakan Demonstrasi justru dianggap sebagai kerusuhan. Entah ini salah media kita yang seperti tidak bisa membedakan antara Demonstrasi yang kalau diinggriskan jadi demonstration dengan Kerusuhan yang apabila diinggriskan jadi riot. Perbedaan kata yang membedakan makna.

Selain alasan-alasan dibalik begitu emosinya kita menghadapi kasus Ambalat, adakah yang benar-benar tahu alasan dibalik mengapa kita tidak begitu emosi melihat ada warga kita di perbatasan yang memilih menjadi warga negara Malaysia? Alutsista kita begitu kurang terawat dan tua usia? Korupsi, buruknya birokrasi dan kacaunya moral penegak hukum? Kemiskinan, pengangguran, di dalam negeri?

Ambalat punya dua alasan untuk kita maju perang terhadap Malaysia. Ribuan masalah lain didalam negeri punya jutaan alasan untk kita maju perang terhadap sikap dan kedewasaan kita sendiri. Apa anda akan maju berkelahi dengan kaki dan tangan yang senantiasa berkhianat karena rusaknya koordinasi  fisik, itu terserah anda. Karena nanti kalau sudah keburu maju, gak mungkin lagi kabur ke kamar mandi mendengar tertawaan dan serangan dari sana-sini.

Posted in Pandangan Pribadi, Political Asset, Setengah Serius, Writings at June 8th, 2009. - Vote Artikel ini di LintasBerita
WordPress Loves AJAX