Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 2)

7 menit kemudian, seluruh belanjaan yang seperti menggunung didepan anak itu sudah selesai dihitung. Ketiga ibu yang dari tadi diam, entah takut atau merasa bersalah sekarang sudah keluar dari toko Bang Ali dan dari sudut mata anak itu, terlihat melanjutkan diskusi mereka diluar toko.

 As requested, :)

Anak itu kini sudah keluar dari toko. Dengan langkah gontai yang sama, pandangan mata yang sama, ia berjalan lurus menuju pinggir jalanan becek itu. Dibelakangnya, ribuan orang berlalu-lalang, melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sementara didepannya terhampar kemacetan yang seakan tidak pernah habis di kota itu. Matanya yang biru, seperti dengan keras meneriakkan jati dirinya yang setengah keturunan. Ia lalu berjalan perlahan, menuju sebuah angkot yang sedang terjebak kemacetan. Ia naik, dan duduk seperti tanpa kesadaran. Pandangan matanya masih sama, kosong dan tanpa harapan.

 

Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang lurus ke arah pintu angkot yang terbuka lebar. Ia memandang aspal dan debu yang beterbangan seperti menemani perjalanan angkot tua itu. Sesekali dilihatnya diluar pengemis dan gelandangan yang duduk di pinggir jalanan berdebu. Dipikirannya terbayang apa rasanya duduk disana berjam-jam, bernafas menghirup debu dan aspal yang menyelimuti tubuh rentanya. Ia membayangkan bagaimana kalau ia mati, akankah ada yang mengkafani dan memandikannya? Atau dia hanya akan menjadi seonggok daging yang terkulai lemas di sudut kota, menunggu orang menemukan dan menjadikannya alat percobaan para calon dokter?

 

Hanya 15 menit perjalanan itu terbentang. Kini ia sudah sampai di rumahnya. Rumah yang kini kosong, diterangi cahaya matahari dari sudut jendela tinggi di dinding ruang keluarga. Disana ada sebuah lukisan, lukisan keluarga yang sekarang sudah tergantung miring tanpa ada yang membetulkan. Lukisan itu bergambar ayahnya, seorang pengusaha sukses dengan janggut dan kumisnya yang berwibawa. Lalu ibunya, dengan kecantikan yang tiada tara, digambarkan dengan rambutnya yang pirang panjang membentang. Lalu ada dirinya sendiri. Pikirannya terdiam. Ia ingat, saat lukisan itu dibuat dua tahun lalu. Ia masih 14 tahun kala itu. Ayahnya yang baru terpilih menjadi direktur sebuah BUMN, dengan senyum yang merekah pulang ke rumah memanggilnya bersama adik dan ibunya ke ruang keluarga. Ayahnya dengan bangga berdiri diatas karpet itu, didepan televisi itu. Ia dengan ceria mengumumkan telah terpilih, lalu memeluk kami bertiga. Rasanya semua ceria saat itu. “Aku rindu senyum itu” pikirnya dalam hati, memikirkan senyumnya sendiri di lukisan itu.

 
 

Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 1)

Seorang anak berjalan pelan menuju pintu toko di sebuah pasar kumuh pinggiran kota. Anak bernama Muhammad itu berjalan pelan, gontai, seakan tidak ingin langkahnya terdengar orang-orang di sekitarnya. Itu percuma, karena penampilannya saja sudah menarik perhatian para pedagang dan pengunjung yang menjalankan aktivitas harian di pasar. Ia terus berjalan, pandangannya lurus kedepan, memandang sesuatu yang tidak ada di mata orang lain, tapi terlihat jelas di rona matanya. Biru, mata anak itu. Sementara bajunya yang rapi dengan kemeja berwarna putih dan celana jeans biru semakin memperlihatkan perbedaan diantara celana pendek kusut dan kaos hitam lusuh yang dipakai orang-orang di sekitarnya.

Begitu sampai di depan Toko Bang Ali yang dituju, tangannya bergerak pelan mendorong pintu masuk kaca yang menandakan bagaimana besarnya toko Bang Ali dibanding toko yang lain. Ia lalu masuk, dengan mata yang terus terarah lurus kedepan, tanpa memandangi kasir atau para pembeli yang terus memperhatikan langkahnya di meja pembayaran. Ia terus berjalan menuju rak B3, rak yang menurut tulisan diatasnya adalah rak untuk “Popok & Perlengkapan Bayi”. Bergerak untuk pertama kalinya, bola matanya yang berwana biru itu tertunjuk pada rak popok. Tangan putihnya lalu bergerak perlahan mengambil satu pak popok bayi berwarna biru, tanpa memperhatikan bungkusan-bungkusan popok merek lain yang banyak disusun disana. Entah karena ia sudah tahu merek popok yang akan dibelinya dari awal atau memang ia diperintahkan untuk membeli merek “biru” yang sekarang dipegangnya. Langkah gontainya lalu kembali terayun, menuju meja kasir. Ia mengantri, sementara didepannya dua atau tiga ibu-ibu yang sudah mengantri sebelumnya sibuk mendiskusikan sesuatu yang sepertinya tentang anak yang mengantri hanya beberapa senti dari mereka.

Tanpa sadar kalau anak itu mendengar diskusi mereka, kata demi kata terlontar dari mulut mereka. Mereka berbicara tentang bagaimana anak itu kabarnya adalah anak dari salah satu koruptor kaya-raya yang sekarang ditahan dan sedang diadili. Mereka berbicara tentang bagaimana harta anak itu dan keluarganya telah disita, dihabisi dan dikosongkan dari rumah mereka yang besar di tengah megahnya kota Jakarta. Diskusi mereka mendadak terhenti oleh suara telepon genggam di belakang mereka. Sekejap mata mereka memandang kebalik punggung mereka sendiri, terkaget dengan adanya anak yang mereka gosipkan dari tadi. Anak itu dengan lunglai merogoh kantung celananya. Ditariknya sebuah telepon genggam yang sepertinya adalah sisa-sisa dari kejayaan keluarganya yang seluruhnya dipenjara karena korupsi. Telepon genggam itu kini terpegang erat di tangannya, terarah ke telinga yang baru saja dipaksa mendengar keburukan keluarganya sendiri dari mulut orang lain. “Halo?” katanya lemah. Suaranya, yang baru terdengar sejak tadi, sedikit menggetarkan hati para ibu didepannya. Mereka merasa bersalah, membicarakan sesuatu tentang keluarga seorang anak yang sekarang kelihatan begitu lemah. Anak yang umurnya tidak lebih dari 13 tahun tapi tidak kurang dari 11 tahun itu seperti sudah ditarik semua semangatnya. Ia menjawab dengan nada datar, seakan tidak ada lagi yang ia tunggu atau ia harapkan. “Aku di pasar dek. Iya, kakak sebentar lagi pulang. Adek yang tenang, banyak minum” katanya lemah. Nadanya sedikit menyemangati, yang kelihatannya ditujukan untuk adiknya. Ibu-ibu didepannya, terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, padahal terus mendengarkan. Mereka sepertinya telah membuat kesimpulan masing-masing setelah mendengar pembicaraan yang hanya bertahan lima menit itu. Selesai bicara, anak yang tadi mereka bicarakan dengan berapi-api itu kini kembali ke keadaan sebelumnya, tidak mengeluarkan suara apapun kecuali nafasnya yang sesekali dihembuskan seperti orang yang sedang menahan suatu beban berat.

 
 

Yes We Can – Barrack Obama Song (Will.I.Am)

It was a creed written into the founding documents that declared the destiny of a nation. Yes we can.
It was whispered by slaves and abolitionists as they blazed a trail toward freedom. Yes we can.
It was sung by immigrants as they struck out from distant shores and pioneers who pushed westward against an unforgiving wilderness. Yes we can.
It was the call of workers who organized; women who reached for the ballot; a President who chose the moon as our new frontier; and a King who took us to the mountain-top and pointed the way to the Promised Land.
Yes we can to justice and equality. (yes we can) Yes we can to opportunity and prosperity. Yes we can to opportunity and prosperity. Yes we can to opportunity and prosperity. Yes we can heal this nation. Yes we can repair this world. Yes we can. Si Se Puede.
We know the battle ahead will be long, but always remember that no matter what obstacles stand in our way, nothing can stand in the way of the power of millions of voices calling for change.
We want change!
We have been told we cannot do this by a chorus of cynics who will only grow louder and more dissonant. We’ve been asked to pause for a reality check. We’ve been warned against offering the people of this nation false hope.
But in the unlikely story that is America, there has never been anything false about hope.
We want change! I want Change.
The hopes of the little girl who goes to a crumbling school in Dillon are the same as the dreams of the boy who learns on the streets of LA; we will remember that there is something happening in America; that we are not as divided as our politics suggests; that we are one people; we are one nation; and together, we will begin the next great chapter in America’s story with three words that will ring from coast to coast; from sea to shining sea – Yes. We. Can.

I know, this is the second time i posted a song as a topic in this blog. I know, some of the readers of this blog might think i’m a lazy blogger because what i do is just post a song and discussed it in 10 to 20 line of paragraph. But this song, is simply amazing i can’t do anything than just post them in my blog. It’s worthwile i guess, because the content of Obama’s New Hampshire speech is not only applicable in United States, but also in every countries around the world. My question is, when there will be local politician with a wide vision of the future and in the other side also young enough to understand the demand of modern government?

Yes i’m not american. But i didn’t regard this song as just simply a song. It’s also hope. Hope to make a better nation in the name of one presidential election. And while hope is the universal answer of almost every problem in the world, music is the universal language to unite all the diversity in the world.

———————————————————–

Additional Information about this song is available here

Will.I.Am Official Youtube Channel is here

Will.I.Am Interview on ABCNews about the song is here

 
 

Jamie Cullum – Photograph


Her name was written on a photograph,
right next to her red, sunburnt face,
it all had happened in that long tall grass,
about a mile from her old place,
and I can’t remember how it started and if it lasted that day in the sun.

We said that we were going to study hard,
we held our books instead of hands,
she held a blanket over cans of beer,
I can’t deny I was so full of fear.

It’s just another story caught up in another photograph I found.
and it seems like another person lived that life a great many years ago from now,

When I look back on my ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.
when I look back on my ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.

And there’s the first time that I tried that stuff,
I think I look a little green,
I remember throwing up behind a bush,
and I found it hard to use my feet,
and who’s that easily led little boy who’s really off his head?

It was the same night that I kissed that girl,
the tall one with the auburn hair,
I remember laughing coz to kiss me,
she had to sit down on a chair!
she tasted like the schnapps she’d drunk,
and the cigarette she’d stolen from her mum.

And it’s just another story caught up in another photograph I found.

When I look back on my ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.
When I look back on my ordinary ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.

Ini bukan pertama kalinya gw ngebahas soal lagunya Jamie Cullum. Dan mungkin sekarang lo udah bertanya2 apakah gw ngefans berat sama Jamie Cullum sampe gw ngebahas dua lagu dia di blog gw? :D (kalo gak berarti gw kegeeran :P ) Well, bisa dibilang gw adalah penggemar segala jenis musik, kecuali musik dangdut. Dan Jazz, adalah musik nomor 2 yang saat ini gw sukain banget. Yang kesatu ya udah jelas Hip-Hop (gw ngefans berat sama Kanye West 8) ).

Nah, lagu yang sekarang gw tampilin liriknya ini bagi gw sebenernya bukan salah satu lagu Jamie Cullum favorit gw. Tapi kebeneran, lima menit yang lalu (serius nih :mrgreen: ) gw lagi dengerin lagu2nya Jamie Cullum lagi di hape, dan kebeneran lagu pertamanya keputer yg ini. So, gw denger deh tuh lagu. Lama2 gw cerna liriknya….rasanya dalem juga ya…..gw pikir2 lagi…bener juga ya :P pokoknya pikiran2 kayak gitu muncul terus deh. Yang gw maksud liriknya dalem itu adalah, di lagu ini diceritain seseorang (mungkin si Jamie-nya :) ) lagi ngeliat foto seorang cewek yang mukanya kayak abis berjemur. Seseorang yang lagi ngeliatin foto ini udah gak inget lagi kenapa tuh cewek bisa tanned kayak abis berjemur gitu. Cerita pun berlanjut, dia terus ngeliatin foto2 tua yg dia temuin. Dia lalu ngerasa, selama ini hidup dia itu udah dipenuhi keajaiban2 yang anehnya dia selalu ngelewatin keajaiban2 itu saat dia menjalani hidupnya waktu itu. Ah kelamaan ngomong, coba aja deh baca potongan lirik dibawah ini :
When I look back on my ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.
when I look back on my ordinary, ordinary life,
I see so much magic, though I missed it at the time.

Entah kenapa gw keinget sama diri gw sendiri aja. Gw tuh sering banget mikirin masa lalu2 gw dan pikiran2 itu selalu diakhiri dengan penyesalan gw kenapa waktu itu kok rasanya gw gak terlalu menghargai apa yang terjadi ya? Rasanya aneh aja…manusia bisa melewati sesuatu yang sebegitu hebatnya tapi gak sadar. (Buat Soehartois…jangan hubungkan artikel ini dengan Soeharto :evil: ).

Yang pasti gw cuma mau bilang apa yang baru gw pelajari. Rasakan dan hargailah keajaiban2 yang sekarang terjadi dalam hidup lo. Bahkan mungkin menit ini juga waktu lo lagi baca tulisan ini. Karena nanti, di masa depan kita cuma bisa mengenang aja.

——————————————–

Buat yg mo donlot lagunya ada disini

 
 

Friend Connect

 

Latest Shout!

  • achmad sholeh: mampir kesini mas .-= achmad sholeh´s last blog ..Kesaktian Pancasila Dan Bela Negara =-.
  • Budi Ridwin: Tulisan yang bagus!! Saya sangat amat Setuju dengan tulisan diatas. boleh saya sebarkan juga lewat blog...
  • eorllandso: exempt tar ice geological agricultural consensus africa [url=http://www.archive.org]va riations cost...
  • pututik: i still don’t understand how to used mycontextual regarding Amazon affiliates .-= pututik´s last...
  • Pembuat Theme: Wah…..gawat neh….kebeasan berpendapat kita hilang
 
 

Afiliasi

 

Meta

Display Pagerank

Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory Pageboss.com

hits counter

 
 
 
 
Ignaty Nikulin