Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 2)
7 menit kemudian, seluruh belanjaan yang seperti menggunung didepan anak itu sudah selesai dihitung. Ketiga ibu yang dari tadi diam, entah takut atau merasa bersalah sekarang sudah keluar dari toko Bang Ali dan dari sudut mata anak itu, terlihat melanjutkan diskusi mereka diluar toko.
![]()
Anak itu kini sudah keluar dari toko. Dengan langkah gontai yang sama, pandangan mata yang sama, ia berjalan lurus menuju pinggir jalanan becek itu. Dibelakangnya, ribuan orang berlalu-lalang, melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sementara didepannya terhampar kemacetan yang seakan tidak pernah habis di
Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang lurus ke arah pintu angkot yang terbuka lebar. Ia memandang aspal dan debu yang beterbangan seperti menemani perjalanan angkot tua itu. Sesekali dilihatnya diluar pengemis dan gelandangan yang duduk di pinggir jalanan berdebu. Dipikirannya terbayang apa rasanya duduk disana berjam-jam, bernafas menghirup debu dan aspal yang menyelimuti tubuh rentanya. Ia membayangkan bagaimana kalau ia mati, akankah ada yang mengkafani dan memandikannya? Atau dia hanya akan menjadi seonggok daging yang terkulai lemas di sudut
Hanya 15 menit perjalanan itu terbentang. Kini ia sudah sampai di rumahnya. Rumah yang kini kosong, diterangi cahaya matahari dari sudut jendela tinggi di dinding ruang keluarga. Disana ada sebuah lukisan, lukisan keluarga yang sekarang sudah tergantung miring tanpa ada yang membetulkan. Lukisan itu bergambar ayahnya, seorang pengusaha sukses dengan janggut dan kumisnya yang berwibawa. Lalu ibunya, dengan kecantikan yang tiada