Hidup Untuk Alasan (Atau Sebaliknya)


Hasil Search di Google Images dengan keyword “alasan”. Jangan tanya maksudnya apa.

 

Beberapa hari ini gw suka mikir (dan pemikiran gua rata2 gak penting). Hampir setiap hari kehidupan kita sebagai manusia diisi oleh alasan demi alasan. Beberapa dari alasan yang kita keluarkan adalah alasan untuk mengamankan posisi. Agar ancaman dari luar tidak lagi datang menghantui. Agar ketakutan dapat hilang, agar kita dapat menikmati manusia lain menolak alasan kita dengan mengatakan “ah, alasan!” lalu kita berusaha memperkuat alasan tadi dengan berbagai macam cara.

Alasan dapat diterima karena ia memiliki fondasi utama yang mampu masuk diterima logika. Contoh kasus, Seorang lelaki muda gendut terlambat rapat 30 menit dengan alasan tidak mendapat lahan parkir di lantai bawah sementara keributan dengan istrinya semalam sampai jam 4 pagi sudah diketahui orang satu kantor akan dengan mudah dimaafkan oleh bosnya. Bukankah berarti alasannya bohong? Lalu kenapa? Ini tidak lain karena keributan itu sendiri disebabkan ulah si lelaki yang selingkuh dengan seorang perempuan bernama Megawati, dan si Megawati ini gak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekaligus mantan Presiden

 

 


Megawati. (Yang Mantan Presiden)

 

Alasan semacam ini dapat diterima karena ia telah dipertanggung jawabkan oleh greater power.Alasan ini telah mendapat semacam “plat mobil Diplomat” yang membuatnya kuat, karena yang mampu merobek topengnya hanyalah si Istri, yang jelas cuma akan jadi subjek obrolan makan siang temen2nya si lelaki tadi. Ya. Greater power yang gua maksud adalah Megawati kebohongan.

 

Intinya, alasan dapat diterima selama ia tidak berasal dari ulah kita sendiri. Seperti yang dilakukan si lelaki gendut diatas, mungkin kalo alasan yang dia kasih adalah “Saya ribut ma istri saya tadi malem, lempar2an hamster sampe jam 4 pagi”, maka si bos (kalo si bos ini rada2 asshole) gak bakal langsung diem. Ia akan menjawab, “Itu masalah kamu. Masalah kami adalah kamu punya tanggung jawab terhadap kantor yang gak bisa kamu tutup dengan alasan keluarga semacam itu”. See? Alasan yang ia berikan jujur, to the point, dan harusnya dapat dimengerti. Tapi karena ia bekerja di Adam Air menjual dirinya sendiri sebagai bahan baku alasan, bukan si Istri atau si bos. Ok, mungkin beberapa orang akan bilang “bosnya gak bakal berani nanya karena kan mereka udah tahu si lelaki gendut ini selingkuh ma pemilik perusahaan”, oh jangan salah ;)) . Dengan dia berbohong dalam alasannya, maka asumsi masih dapat beterbangan. “Bisa aja setelah ribut dia pergi kerumah si bos trus tidur disitu makanya terlambat masuk kerja.” pikir si bos. Maka, alasan yang bohong tadi lebih kuat. 

 

Lalu selanjutnya, apa sebenarnya poin dari postingan ini? Hmm…….coba anda pikirkan. Anda pikirkan dalam-dalam, jauh-jauh, kalo bisa di pinggir laut.

 

 

Karena gua sendiri bingung sama maksud postingan ini.

Bookmark and Share

Viewing 3 Comments

Trackbacks

close Reblog this comment
blog comments powered by Disqus


Hosted in Dracoola Multimedia