
Satu manusia lagi, manusia yang bergelar mahasiwa, yang telah menjalani empat semester masa kuliah di salah satu universitas terbaik di negara ini, tewas tanpa tujuan yang jelas. Tewas dalam masa “pembinaan”, masa-masa dimana katanya seorang mahasiswa akan dibentuk menjadi mahasiswa yang lebih hormat terhadap senior, terhadap almamater, dan entah siapa lagi.
Yang jelas, menurut mereka yang menjadi pembina, OSPEK bertujuan positif. Ia diprogram sebagai alat pembentukan mental “manusia-manusia asing” yang baru saja masuk kedalam satu institusi sehingga mereka menjadi mahluk yang “akrab” dengan rasa hormat terhadap “senior”.
Pertanyaannya, masih relevankah OSPEK pada tahun 2009, ditengah gema reformasi politik dan keterbukaan informasi lewat internet? Apakah memang pelaksanaan OSPEK berbanding lurus dengan pembentukan mental mahasiswa-mahasiswa Indonesia menjadi pelajar yang ideal?
Dalam hemat saya yang juga masih bergelar mahasiswa, rasanya tidak. Tidak, tidak, dan tidak. Kenapa saya berpdandangan demikian? Saya akan jelaskan.
Mempertanyakan Relevansi OSPEK
Saat mendengar singkatan OSPEK pertama kali dalam hidup saya di SMP, dalam pikiran saya mendadak terbayang satu kata lain : senioritas. Ya. OSPEK dalam mata saya adalah suatu penggemblengan yang melibatkan kakak-kakak yang lebih dulu masuk ke sekolah, dengan proses yang macam-macam anehnya, berbagai tugas yang kadang gak jelas tujuannya, dan baju yang aneh kelihatannya. OSPEK adalah menyeregamkan. Belum apa-apa, kita sudah diberi daftar barang yang harus kita pakai dan gunakan setiap hari selama masa “penggemblengan”. Kita dipaksa mengikuti apa yang diperintahkan sang senior, apapun alasannya. Kalau tidak, hukum!
Entah mengapa, saat itu, saat pikiran saya sibuk memikirkan dan mencari-cari manfaat OSPEK, justru satu kata lain yang tersibak di alam bawah sadar saya : militerisme. OSPEK pada hakekatnya sangat-sangat-sangat dekat dengan pendidikan gaya militer, karena pendekatan yang digunakan adalah pendekatan seragam. Dalam mekanisme pendidikan gaya militer, anda bukan lagi manusia yang punya otak, mata, telinga dan mulut sendiri-sendiri. Anda adalah mesin pembunuh. Anda diperintahkan untuk menggunakan satu seragam, satu helm, sepasang sepatu dan satu pucuk senjata yang dibagikan merata ke seluruh anggota. Anda berjalan dengan satu perintah. Apabila satu orang dihukum, maka semua harus merasakan. Anda dilarang mengeluarkan pendapat anda. Semua terbatas, dan sistem komando berlangsung dengan susunan vertikal. Semua harus nurut komandan.
Pada awalnya, sistem pendidikan gaya begini terdengar baik dan positif sifatnya. Anda diajarkan untuk menekankan kebersamaan. Anda diajarkan untuk menjadi disiplin. Anda dibentuk menjadi manusia yang efisien.
Tapi sayangnya, sistem pendidikan militer disebut sistem pendidikan militer karena ia hanya cocok dijalankan pada lingkungan militer, bukan sipil. Ini tidak lain karena pada lingkungan militer anda harus selalu siaga. Anda dipersiapkan untuk kapan pun berperang. Anda harus dibuat tegang dan penuh ketakutan, karena anda disiapkan untuk medan perang. Sesungguhnya, sistem pendidikan militer dibangun atas asas bahwa anda saat ini sedang berperang. Dan ini sangat berbeda jauh dengan lingkungan sipil. Pada sistem pendidikan sipil, penekanan justru terletak pada pendekatan individualistik. Manusia, walau ia adalah mahluk sosial yang bersemangat kolektif, adalah mahluk yang unik. Ia berbeda-beda. Saya, yang senang menulis di blog tentu berbeda dengan sepupu saya yang senang ngaji dan bernasyid. Orangtua saya, walau sudah mengetahui satu sama lain dan menikah bertahun-tahun, tetap adalah dua manusia berbeda yang sedang mencari persamaan. Ini sebabnya pertengkaran itu harus dan tetap ada.
Manusia adalah unik dan harus diperlakukan sebagai mahluk yang unik!
Disini, pada titik ini, yang menyebabkan “penggemblengan” gaya OSPEK menjadi tidak efektif dan tidak relevan. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal post ini, pendidikan gaya OSPEK sesungguhnya adalah pendidikan gaya militer yang menekankan keseragaman dan efisiensi. Namun jelas, karena setelah OSPEK selesai mahasiswa hidup di lingkungan yang tidak sama dengan lingkungan saat menjalankan OSPEK, yaitu lingkungan sipil, ia akan kembali menjadi manusia sipil. Tidak efisien, kadang lupa, khilaf, dan berbeda-beda. OSPEK dengan gaya pergi ke gunung, suruh lari telanjang dan sebagainya hanya akan efektif kalau sang mahasiswa kuliah di gunung, sambil lari telanjang dan sebagainya.
Dalam hal ini, saya harus memuji langkah yang diambil oleh Panitia OKK UI 2008 lalu yang saya ikuti. OKK UI kemarin menjauhkan diri dari inisiasi penuh militerisme, dan malah menyuruh mahasiswa menulis esai, cerpen dan diskusi terbuka antar mahasiswa. Kita sebagai mahasiswa harusnya bangga dengan OSPEK gaya begini, karena ini berarti kita dihargai dan diperlakukan sebagai manusia yang unik dan memiliki pemikiran pribadi.
Sehingga karena perbedaan lingkungan yang tidak memungkinkan seorang mahasiswa untuk meneruskan apa yang ia pelajari di OSPEK selain “kalau ada senior harus hormat” yang pada dasarnya adalah pengetahuan dasar moral manusia yang tidak harus dipelajari melalui proses inisiasi fisik yang melelahkan, maka saya nilai OSPEK tidak relevan dan jauh dari apa yang disebut efektif.
Lebih jauh tentang efektivitas
Satu pertanyaan lagi yang saya tanyakan di awal posting adalah : Berbanding Luruskah pelaksanaan OSPEK dengan meningkatnya kualitas mahasiswa dan universitas di Indonesia?
Pertanyaan ini justru melahirkan pertanyaan baru lagi : Bagaimana anda memandang kualitas mahasiswa kita saat ini?
Saya bukan ingin merendahkan bangsa sendiri, merendahkan sesama mahasiswa, merendahkan universitas yang jelas sudah berjuang untuk meningkatkan kualitas, tapi jelas, berdasarkan standar Webometrics, hanya tiga universitas di Indonesia yang masuk 1000 besar universitas dunia. UGM, ITB, dan UI. Dan tiga-tiganya pun berada di luar 500 besar dunia. Nama Indonesia pun masih bertengger dalam 50 besar negara terkorup di dunia. Persepsi kualitas lulusan universitas di Indonesia diluar nama-nama besar Universitas Negeri yang sulit beranjak dari kejayaan masa lalu membawa cap hitam besar : dipertanyakan.
Tidak usah muluk-muluk, lihat praja-praja IPDN (yang dulu bernama STPDN) yang lulus dari institusi pendidikan dengan nama yang sudah sangat erat dengan seniorisme, isu rasial dan tewasnya mahasiswa karena sebab yang kurang jelas tiap tahunnya. Mereka mungkin adalah orang-orang yang paling dikorbankan dengan praktek inisiasi penuh kekerasan yang dulu (belum ada lembaga monitoring yang melaporkan keadaan IPDN saat ini) pernah dijalankan, yang menewaskan praja-praja yang adalah pelajar terbaik di Indonesia dengan news exposure yang gila-gilaan di media massa. Bukan apa-apa, hasil didikan STPDN/IPDN yang menghasilkan birokrat/pegawai pemerintahan bukan lagi dipertanyakan, tapi negatif dalam persepsi masyarakat. Ingat pamong praja? Ingat image PNS? Ingat image lurah, kades, camat, atau petugas apapun yang melayani anda bikin KTP? Selalu negatif.
Lalu apa sebenarnya hasil inisiasi yang dibangga-banggakan oleh STPDN/IPDN sebagai “proses penggemblengan yang mendidik”? Seragam? Rambut plontos? Cara jalan yang seperti tentara? Atau cuma imej terpandang, terhormat, yang didapatkan lewat menyiksa junior dengan niat “mendidik”?
Karena itu, jelas, pelaksanaan OSPEK pada tingkat apapun dimanapun kapanpun selama ia masih bersifat militeristik, penyeragaman dan sistem komando vertikal (dari atas kebawah, dari senior ke junior), ia tidak akan memberikan efek apapun dan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas mahasiswa dan universitas. Kalaupun ada peningkatan, maka ia adalah peningkatan berbasis ketakutan. Karena itu, sifatnya sementara dan tidak stabil.
Catatan SetengahMateng Lainnya
Banyak mahasiswa yang menyenangi proses OSPEK karena “nyantai aje bro, yang penting asik….lagian anggep aja lucu-lucuan, kan cuma disuruh push-up doang”. Sungguh saya cuma bisa terdiam mendengarnya. Pelaksanaan OSPEK dalam artian yang berorientasi militeristik dan kekerasan apapun namanya adalah tindak penghinaan terhadap intelegensi kaum yang harusnya bangga dengan gelar dirinya : mahasiswa. Kita sebagai mahasiswa dinilai dari intelektualitas, fleksibilitas (nyante aje bro
) dan sensitivitas. Kita bukan dikenal karena kita menghormati senior. Menghormati senior adalah harus, selayaknya menghormati guru dan orang tua. Namun menjalani tindak penghinaan hanya untuk mencapai tujuan “menghormati senior” adalah sesuatu yang mubazir, apalagi kalau sampai mengorbankan jiwa dan nyawa.
Karena itu, hilangkan ospek yang penuh kekerasan!
