
Beberapa hari dan minggu terakhir, gw sedikit memperhatikan banyaknya jenis tulisan di blog-blog dan thread di forum yang membawa nada yang hampir sama : Obama itu sebelas-dua belas dengan Bush, maka ya gak perlu diharapkan. Kalaupun pesannya berbeda, biasanya lebih radikal : Obama lebih parah daripada Bush.
Jujur, gw agak males membahas masalah beda atau samanya Obama dan Bush. Kedua orang ini adalah presiden dari sebuah negara yang jauh fisiknya dari Indonesia, dan keputusunnya dalam kasat mata mungkin tidak terasa langsung di Indonesia. Terlebih lagi, menilai seseorang positif-negatif adalah sebuah kebebasan berpendapat yang harus semakin disebarkan di Indonesia : sebuah hak warga negara.
Tapi kembali karena poin terakhir itu tadi, maka gw harus membahas hal ini, demi kepentingan untuk menyuarakan pandangan gw sendiri dan untuk memberikan sekadar perbandingan. Silahkan berikan pandangan anda juga di kolom komentar.
Mengapa Obama Berbeda dengan Bush
Alasan mengapa Obama berbeda dengan Bush harus diawali oleh satu pertanyaan : Siapa Bush? Ditambah lagi, Siapa Obama?
George W. Bush, adalah seorang Presiden berumur 62 tahun yang juga sekaligus anak dari seorang mantan Presiden bernama hampir sama, George H.W Bush. Seumur hidupnya ia tinggal di Amerika, besar di lingkungan “cowboy” Houston, Texas dan seperti ayahnya, merupakan anggota Partai Republik.
Obama, disisi lain adalah salah satu Presiden Amerika paling muda dalam sejarah dengan umur 47 tahun, yang seumur hidupnya pernah tinggal di lebih dari 2 negara : Amerika, Indonesia dan Kenya sebagai tempat asal Ayahnya yang beragama Islam. Ia dibesarkan di Indonesia, dan seperti yang ia akui sendiri di bukunya yang ketiga The Audacity of Hope, adalah tempat dimana pendapatnya tentang toleransi beragama dan ras tumbuh dengan cepat.
Lalu dimana perbedaan fundamental Obama dan Bush? Well, selain masing-masing adalah Presiden dari dua partai yang berbeda, yang di Amerika berarti perbedaannya sangat prinsipil, berbeda dengan di Indonesia, mereka berdua berbeda Ras. Berbeda umur, dan berbeda tempat dibesarkannya.
Untuk seorang sosiolog yang senang meneliti dampak perbedaan latar belakang seseorang, 4 perbedaan diatas sudah cukup untuk membuat garis hitam tebal perbedaan antara Obama dan Bush.
Namun empat perbedaan diatas belum cukup untuk membedakan Bush dan Obama di Indonesia. Kita butuh perbedaan yang benar-benar fundamental. Yang berefek terhadap keberadaan negara ini. Saya akan jelaskan.
1. Bush Serang sebelum Diserang, Obama Bicara, bicara, dan bicara sebelum menyerang
Perbedaan nomor satu adalah perbedaan pesan yang dibawa oleh masing-masing kepala negara. Dalam hubungan internasional, apalagi yang berurusan dengan keamanan, bahasa tubuh dan pesan merupakan bekal diplomatik. Bush, dari awal pemerintahannya (yang menurut banyak pengamat justru seperti dimulai dari 11 September 2001, karena sebelum WTC jatuh ia sangat lambat dalam memerintah) sudah mengatakan bahwa Amerika dengan modal kekuatan militer dan ekonominya harus menyerang sebelum diserang. Kegagalan melakukan itu berarti Amerika akan dicap gagal oleh dunia, dan terlebih besar lagi, hidup rakyat Amerika terancam.
Sementara sebaliknya, Obama membawa pesan yang sangat berbeda. Ia dari awal pemerintahannya, bahkan kampanye sudah jelas mengatakan bahwa ia akan menekankan Bicara, bicara, dan bicara sebelum menyerang. Amerika justru harus “mengetahui dan mencari usaha untuk bisa berdamai dengan musuh”. Ini sebenarnya wajar, mengingat kegagalan besar Bush dengan strategi Serang sebelum diserangnya, yang malah menghasilkan cap negatif Amerika dan pengucilan Internasional. Selain itu, Obama sepertinya mendasarkan teorinya berdasarkan perdamaian Amerika – Uni Soviet dan ternyata, setelah proses damai berlangsung, Uni Soviet justru seperti “ter kalahkan” dengan sendirinya.Terlebih lagi, Obama mau bicara dengan Iran. Ia mungkin Presiden pertama sejak Revolusi Iran 1979 yang mengeluarkan komitmen semacam ini.
Lalu apa signifikansi poin pertama ini untuk Indonesia? Jelas, dengan pemerintahan Obama hubungan diplomatik yang berhubungan dengan keamanan internasional akan berlangsung lebih halus, diplomatik dan berperikemanusiaan. Tidak seperti bicara dengan cowboy.
2. Bush : Penyiksaan Legal selama demi Kepentingan Amerika, Obama Penyiksaan yang melanggar hukum Internasional HARUS DIHAPUSKAN
Siapa yang tidak tahu dan sadar dengan kebijakan Bush di Guantanamo dan banyak “penjara rahasia” milik CIA yang katanya berada di Eropa? Penyiksaan berlangsung 24 jam, dengan melanggar ratusan hukum internasional bahkan hukum Amerika sendiri. Bush melanggarnya, dengan alasan “demi keamanan nasional”.
Obama sangat jelas memberikan sinyal dalam hal ini. Hari pertama pemerintahannya diisi oleh pembuatan surat perintah penutupan Guantanamo. Ia meminta Mahkamah Agung dan segenap perangkat hukum Amerika termasuk Militer untuk menghapus legalisasi penyiksaan yang melanggar hukum internasional dan Nasional. Di bukunya dan banyak pidatonya ia mengatakan “Akan tidak ada gunanya Amerika menyebarkan pesan demokrasi dan kesadaran akan hukum di dunia kalau kita sendiri melanggar hukum internasional secara sadar. Amerika akan seperti bangsa munafik”.
3. Bush tanpa usaha nyata membantu perdamaian Israel – Palestina, Obama mengirimkan orang terbaik dalam perdamaian konflik ke sana
Selama pemerintahannya, Bush hanya mengirimkan seorang menteri luar negeri dengan jumlah kunjungan yang sangat sedikit ke daerah konflik Israel – Palestina.
Sementara Obama mengirimkan John Mitchell, staf Clinton yang berhasil mendamaikan Irlandia Utara yang telah diterjang konflik selama dekade. Mitchell pernah dikirim oleh Bush kesana, namun kesan serius dari Bush sama sekali tidak ada, dan ia terlalu pro Israel. Akibatnya, proses negosiasi dimulai dengan preseden negatif; Bush memelihara konflik.
Namun apakah langkah Obama mengirimkan utusan ke Israel – Palestina untuk meneruskan negosiasi perdamaian cukup? Pertanyaan ini sehubungan dengan keinginan rakyat kita yang menginginkan Israel untuk hengkang dari tanah Palestina. Kita juga memiliki sikap tidak mengakui Israel. Harusnya kalau Obama itu menjanjikan perubahan, maka ia akan melakukan hal yang sama bukan?
Jawabannya, bukan. Obama tidak dan tidak akan mungkin menjanjikan perubahan yang ia tidak mampu berikan. Yahudi di Amerika dan dimata rakyat Amerika adalah seperti pemeluk agama lainnya di Indonesia : Damai, kalaupun ada masalah bukan karena mereka Yahudi. Sementara di Indonesia Yahudi dianggap setan. Dan ini wajar adanya. Mengharapkan seorang Presiden Amerika untuk tidak mengakui Israel dan mengusir Yahudi dari Amerika adalah bunuh diri politik bagi Amerika dan pemerintahannya. Ini seperti mengusir umat katolik dari Indonesia, dan tidak mengakui Vatikan. Karena itu solusi perdamaian yang diberikan Obama adalah dua negara dalam satu tanah (two-states solution). Untuk beberapa orang di Indonesia mungkin solusi ini bullshit, namun kita harus tahu dan menyadari latar belakang keputusan ini.Obama tentu tidak hanya menjanjikan perubahan ke umat agama dan ras selain Yahudi di Amerika : Ia juga menjanjikannya ke umat Yahudi sebagai warga negara Amerika yang sah. Jadi?
4.Bush digantungi banyak Special Interest, dana korporasi dan Lobbyist, Obama tidak mau menerima dana dari ketiganya
Poin keempat mungkin tidak terlalu signifikan terhadap politik Indonesia dan dunia Islam, namun adalah sesuatu yang patut dicontoh oleh politisi lokal kita dan merupakan salah satu perbedaan mendasar Bush dan Obama. Yaitu dalam kampanyenya, Obama menolak pendanaan negara dan uang korporasi besar dan special interest (pemegang kepentingan khusus). Dananya hanya dari dana donasi melalui banyak channel dan website. Hebatnya, ia memegang rekor dan memiliki dana kampanye terbesar dalam sejarah. Bush? Silahkan Google “Bush Special Interest” tanpa tanda kutip.
Sebagai catatan, mendanai kampanye melalui pembiayaan korporasi dan pengusaha kaya adalah biasa di politik dunia, dan lokal Indonesia sendiri, sehingga metode Obama ini dipertanyakan keberhasilannya. Namun idealisme kadang diperlukan, dan keberhasilan Obama perlu menjadi catatan khusus untuk pemilu Indonesia 2009.
5. Bush tak menaruh perhatian khsus terhadap dunia Islam, Obama Amerika harus berteman dengan Islam, mendengarkan dan memulai pembicaraan berdasarkan “mutual respect”
Ini adalah satu poin yang paling dan akan sangat menarik untuk didiskusikan dan dibuktikan. Bush, selama masa pemerintahannya tidak menaruh perhatian khusus terhadap dunia Islam. Penggunaan kata “Islamic Terrorist” sering ia gunakan, dan menyebut Iran-Iraq-Syria sebagai “Axis of Evil”.
Obama? Wawancara pertamanya setelah pelantikan adalah dengan tv Islam Al-Arabiya yang berbasis di Dubai. Walau bukan Al-Jazeera, namun langkahnya ini adalah sebuah sinyal yang perlu diarti dan diperhatikan. Dan seperti yang saya katakan di poin pertama, dalam hubungan internasional sinyal dan bahasa tubuh adalah penting dan bekal. Selain itu? Obama menyebutkan secara khusus bahwa dunia Islam harus dirangkul dan hubungannya harus berdasarkan “mutual respect” dan bukan kecurigaan. Ia adalah Presiden pertama yang mengucapkan secara langsung ha ini dalam pidato Inaugurasi dalam sejarah Amerika. Banyak orang Indonesia yang seperti melewatkan fakta ini karena mengharapkan Obama akan melakukan lebih dan mengutuk Israel dalam pidato inaugurasinya. Ini termasuk wajar, namun akan menjadi kebohongan patologis kalau pidato inaugurasi Obama tidak signifikan untuk hubungan Amerika – Islam. Kata Islam seperti “ilegal” dalam dunia politik Amerika 8 tahun terakhir dalam kepemimpinain Bush, dan Obama berani menyebutkannya dalam pidato inaugurasi? Sebuah keajaiban.
Catatan SetengahMateng tentang Perbedaan Obama – Bush
Perlu dicatat, bahwa, kita masyarakat Indonesia dan dunia baru saja melewati 8 tahun periode pemerintahan “neraka” George W. Bush. Apa yang tadinya hanya merupakan provokasi Osama bin Laden di WTC, ternyata justru berubah menjadi perang salah sasaran, pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran hukum internasional, dan terakhir, krisis global. Pengangkatan Obama yang memiliki latar belakang multi-ras dan pernah tinggal di dunia Islam (dan sekali lagi, seperti yang diakuinya sangat berpengaruh terhadap dirinya saat ini) adalah suatu kemajuan luar biasa untuk Amerika dan dunia. Komitmen penarikan pasukan dari Irak, sebuah perang yang dari awal telah ditentangnya (Obama adalah satu-satunya anggota senat yang tidak setuju atas perang Irak 2003), penutupan Guantanamo, komitmen perubahan perlakuan terhadap dunia Islam adalah perubahan dan perbedaan mendasar dan yang paling jelas dengan Bush.
Ditambah lagi, Obama ingin bicara dengan Iran dalam face-to-face basis!!! Ini besar, karena sejak revolusi Iran 1979, kedua negara sudah seperti musuh sejati. Kalimat Obama ini memicu kontroversi kecil dikalangan politikus konservatif di Amerika, namun ini adalah kemajuan besar untuk politik timur tengah. Pengiriman John Mitchell ke Palestina ia minta dimulai dengan “mendengar” karena menurutnya selama ini Amerika terlalu sering “memulai dengan mendikte” adalah satu lagi kalimat kontroversial dalam politik internasionalnya yang masih sangat baru, belum 3 bulan. Sinyal yang ingin dikirimkan jelas, bahwa ia ingin merangkul dunia Islam, dan ia berharap dunia Islam mau juga sedikit menurunkan topeng kecurigaan yang, harus kita akui, sering kali kita gunakan dalam menilai satu isu yang sifatnya multi-dimensi. Sudah begitu banyak perbedaan Obama dan Bush, lalu mengapa kita masih menyamakannya dengan Bush?
Catatan lainnya adalah, kedua kampanye kepresidenan Obama dan McCain didasari pada “kami tidak seperti Bush”. Karena itu jujur, menyamakan Obama bahkan McCain dengan Bush adalah tindakan yang sedikit putus-asa dalam usaha mendiskreditkan nilai seseorang, dalam hal ini Barack Hussein Obama.
