Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Mitos Transportasi Udara Di Indonesia (Pesawat Tua, dan lainnya)

lion

Sebenernya ini adalah postingan yang cukup lama pengen gw buat. Gw buat untuk mengkritik, memaklumi sekaligus mempertanyakan satu objek berita yang sampe sekarang selalu jadi bahan yang enak banget untuk dikritik. Transportasi Udara.

Apa itu transportasi udara? Pesawat, Helikopter, dan apapun yang bisa terbang menggunakan mesin dan membawa kita ke satu titik dari titik yang lain bisa disebut transportasi udara. Dan udah bertahun-tahun, sejak jamannya tiket murah mulai terkenal dan umum digunakan dengan kehadiran Lion Air, transportasi satu ini gak lepas dari kritik. Kritik karena moda transportasi ini di Indonesia yang gak pernah aman. Selalu ada kecelakaan tiap tahun, yang diikuti dengan kepanikan kecemasan, lalu investigasi, dan perbaikan, hanya untuk terjadinya pengulangan kejadian yang sama. Makin banyak kecelakaan.

Banyak orang, terutama orang awam yang jarang mendapat informasi yang benar dari sumber yang benar tentang transportasi udara sekarang cemas dan takut banget untuk bepergian menggunakan pesawat. Bukan salah mereka juga sebenernya, tapi gw lihat kadang ketakutan ini berkembang jadi mitos-mitos yang gak cuma salah tapi menyesatkan. Mengingat gw sendiri adalah orang yang sangat antusias dengan moda transportasi satu ini (aviation enthusiast ternyata aneh jadinya kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia), gw akan coba bahas satu-satu mitos yang berkembang jadi ketakutan da sebaliknya di Indonesia, dengan pengetahuan gw yang minim juga tentunya. Ini akan jadi long post, tapi gw akan coba keep it short dengan garis besarnya aja, dengan verifikasi data dari sumber-sumber online minimal dari Wikipedia.

1. Pilot Indonesia itu bodoh, gak sepinter pilot asing dan kurang bisa dipercaya

Status : MITOS

Kenapa gw bilang mitos? Karena Pilot Indonesia banyak yang ditarik kerja di Maskapai asing. Kenapa ini relevan? Karena ngapain perusahaan asing mempekerjakan pilot yang bodoh dan gak sepinter pilot mereka sendiri? Bukti? Dua artikel dari Kompas & The Financial Express gw rasa cukup untuk menghancurkan mitos ini dengan pendek saja.

gun_pilot

2. Sumber Masalah Dari Banyaknya Kecelakaan Pesawat di Indonesia adalah Pesawatnya yang Tua

Status : MITOS dan SALAH BESAR

Mungkin ini mitos dan kesalahan terbesar dari banyak media (ya, gw bilang media) yang memberitakan kecelakaan transportasi udara di Indonesia. Mereka telah menyesatkan banyak sekali orang dengan mitos yang satu ini. Kenapa gw bilang mitos? Karena Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengoperasikan pesawat “tua”. Lagian, definisi pesawat “tua” itu apa sih? Yang umurnya 5 tahun? 10? 15? 20?

Kemaren saat MD-90-nya Lion terpleset di Soekarno Hatta, yang disalahkan adalah umur pesawat. Bahkan menteri perhubungan juga menyuarakan opini yang sama. Saat orang di Indonesia yang mungkin rata-rata mengiyakan aja as a cow being pierced in the nose, gw justru curiga. Ada apa ini? Pesawatnya pertama kali dioperasikan tahun 97 kok. That means it’s 13 years old. And that’s a fucking young age in airplane years. (buat yg gak ngerti Inggris, ini artinya pesawat itu masih muda banget dalam tahun pesawat).

Kenapa gw bilang 13 tahun itu umur yang muda? Karena MD-82, varian yang lebih tua dari MD series buatan McDonell Douglas (yang belakangan diakuisisi oleh Boeing), masih dioperasikan di Amerika Serikat (American Airlines, Delta) dan banyak negara lainnya. Di Amerika sendiri tipe pesawat ini punya rekor keamanan yang gak lebih buruk atau lebih baik dari pesawat yang umurnya lebih muda. Sebagai catatan, MD-82 rata-rata dibuat di periode 80-90-an, yang berarti 2 kali lebih tua dari MD-90 milik Lion yang terpleset di Soekarno Hatta. Disana varian ini gak dilarang, gak dianggep gak aman, atau apapun. Disana bisa aman dengan varian lebih tua kenapa disini kita dengan yang lebih muda bermasalah terus?

Malah ada satu lagi fakta yang menarik untuk kita orang Indonesia pelajari. Satu-satunya penyebab airline (atau maskapai) mengganti pesawat ke tipe yang lebih baru adalah perbaikan efisiensi. Perbaikan efisiensi disini mencakup efisiensi bahan bakar, efisiensi maintenance & efisiensi marketing. Kenapa lebih efisien? Karena pesawat baru tentu gak butuh banyak maintenance, ganti spare parts & segala macemnya. Mesin yang lebih canggih juga membuatnya lebih irit, dan dari sisi marketing lebih mudah & murah tentunya meyakinkan pelanggan yang awam dengan transportasi udara dengan janji bahwa “pesawat kami baru” dan “masih muda umurnya” daripada “pesawat kami tua tapi maintenancenya bagus”.

Sekarang masalahnya, kalo pesawat umur 5, 10, 15 tahun itu tua, jadi maunya gimana? Ganti pesawat tiap tahun? Satu pesawat baru unit 737-900 itu harganya 50-85 juta dolar (data dari Wikipedia), nah, sekarang let’s say 1 juta dollar itu 11 milyar, berarti butuh 550 milyar untuk satu pesawat baru yang harus dikeluarkan tiap tahunnya. Ya, kalo ada duitnya bisa, pasti. Orang Indonesia dan maskapainya kan pinter berutang kaya-kaya. Mari kita pesen 100 lebih pesawat 737-900ER seperti yang Lion Air lakukan. Kita pun bertanya (dengan gaya pesen Pizza) “kira-kira dianternya bisa cepet gak ya? Saya mo cepet pake nih soalnya, uda diteken2 menteri”.

Tahu apa jawaban Boeing? Ya, bulan depan akan kami anterin, satu biji. Ya, satu biji. Tahu & sadarkah kita, bahwa Pesawat itu cara produksinya gak kayak mobil yang bisa produksi ribuan unit dalam sebulan? Pesawat itu butuh diproduksi dalam zero-stress environment, akibatnya pembangunannya gak bisa buru-buru. Garuda awal tahun lalu mengumumkan pemesanan empat (ya bener, empat) Boeing 777-300 ER senilai 1 milyar dollar (atau lebih dari 10 trilyun). Awal tahun lalu, udah nyampe belom pesawatnya? Belum. Pesawatnya baru nyampe tahun depan. Jiaaa…..dua tahun buat empat biji pesawat baru.

Lalu apa poin dari omongan gw diatas? Poinnya adalah punya pesawat baru tiap dua atau tiga tahun itu adalah gak mungkin dari segi bisnis & tekhnis. Itulah sebabnya pesawat dibuat dan didesain untuk tahan ratusan tahun. Hah yang bener? Yup, bener. Pesawat itu umurnya diatur dari jam terbang, dan kalo jam terbangnya udah gila2an alias uda aus di segala sisi, maskapai diharuskan menjalani overhaul penuh (CMIIW, other aviation enthusiast please correct me further) yang harganya muahal banget. Gak cuma yang jam terbangnya udah banyak aja, tapi pesawat yang semi-tua pun kalo mau dijaga terus kondisinya butuh biaya maintenance yang mahal. Nah, disini kekurangan maskapai Indonesia.

Kita adalah negara, yang harus kita akui pintar membeli tapi idiot dalam merawat apa yang kita beli tadi. Apapun, apapun itu, yang baru kita buat atau beli pasti mengkilat, gak ada gores sama sekali. Busway, Kancil, ojeg, bahkan Metro Mini sekalipun pasti masih bagus waktu baru beli dan umurnya masih itungan hari. Pernah lihat angkot baru? Masih bagus banget. Lihat tiga bulan kemudian, gw ragu masih sebagus waktu masih baru.

ziggy6_18_01

Beli itu gampang men, ngerawat yang susah. Itu sebabnya gw sangat-sangat-sangat curiga saat Menteri Perhubungan yang notabene pernah kerja di PT DI (dulu IPTN) dan otomatis akrab dengan dunia penerbangan mendadak meminta Lion mempercepat penggantian armada pesawatnya dari MD series ke 737-900ER. Selain statement ini bodoh (karena logically impossible, Boeing gak mungkin tiba2 menyelesaikan seratus lebih pesawat dalam sebulan), statement ini juga secara gak langsung menyalahkan kecelakaan MD-83 di Soekarno Hatta pada umur pesawat. Padahal pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana metode maintenance Lion? Bagaimana pengawasan Dephub pada metode maintenance Lion? Apa ada permainan antara tim pengawas Dephub dan pihak maintainer Lion? Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya butuh ditanyakan media kalau mereka mau sedikit capek dan mempelajari lebih jauh tentang transportasi udara. Tapi sayangnya pertanyaannya gak muncul, justru pengalihan perhatian dari kesalahan Dephub yang diexpose dan seperti “dibenarkan” oleh media. Jujur, gw sebagai penonton kecewa. :(

Adam Air sudah bangkrut, karena masalah keuangan. Rata-rata Airline “murah” di Indonesia sulit untuk mengembangkan diri karena “asal murah”. Gak seperti Air Asia atau Ryan Air yang punya strategi khusus untuk mengembangkan bisnisnya (for the record, Air Asia punya safety record yang jauuuuuh lebih baik dari Lion). Tulisan ini, yang baru membahas 2 saja mitos (padahal masih banyak yg lainnya) penerbangan di Indonesia, gw tujukan khusus untuk media, terutama Detik.Com. Please, read more before you announce yourself as journalist. Posisikan pembaca sebagai orang yang lebih tahu dari anda. Jangan sampe terjadi lagi media besar seperti Detik.Com salah bilang tipe pesawat yg kepleset, terus TransTV yang membuat satu berita khusus menyerang umur pesawat dan relevansinya dengan keamanan. Itu memalukan, dan membodohi penonton. Jadikan ini koreksi, bukan hinaan, karena gw ngerti banget bahwa profesi jurnalis itu capek (gw punya dua om yg kerja di media outlet terbesar di Indonesia, dan mereka kerja kayak gila padahal mereka bukan bagian pencari berita).

*) waduh…artikelnya ternyata udah jadi panjang aja. oke, gw stop disini dulu, kasian yang baca. :D Kalo dapet respons positif (atau negatif), baru gw akan lanjutin untuk bedah mitos lebih dalam. :) Oh ya, untuk yang ingin tahu lebih lanjut dan orang-orang media yang ingin mempelajari dunia penerbangan lebih dalam dari orang-orang terpintar dan ahli dibidangnya, gw saranin gabung di Indoflyer.NET. Worth it banget.

Tulisan Yang (Mungkin) Berkaitan

 
 

Warning: require(/home/setengmt/public_html/wp-content/themes/default/comments.php) [function.require]: failed to open stream: No such file or directory in /home/setengmt/public_html/wp-includes/comment-template.php on line 879