Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Mengamuknya Tentara di Papua : Sebuah Introspeksi (UPDATE)

tentara-tkr

Tulisan ini terinspirasi dari berita yang cukup baru memenuhi ruang media. Sore ini, ups, mungkin lebih tepatnya siang ini, sekitar 1000 pasukan batalyon 751 Sentani di Jayapura, mengamuk. Alasannya? Masih simpang siur, sebenarnya. Berita – berita yang pertama muncul mengindikasikan alasan mengamuknya mereka dikarenakan ada satu anggota pasukan yang meninggal dunia, namun jenazahnya diabaikan oleh sang komandan. Dibiarkan busuk karena lamanya keputusan diambil oleh sang komandan untuk memulangkan jenazahnya ke kampung halaman. Berita kedua, versi TNI tentunya, mengatakan bahwa mereka mempertanyakan keputusan komandannya mengambil dana dari seluruh anggota pasukan untuk menutup biaya pemulangan jenazah ke kampung halaman.

Walau masih terlalu dini untuk menyimpulkan apapun dari kasus ini, gw jujur agak terkejut. Terkejut karena amukan para pasukan, dalam sistem militer yang organisasinya sangat disiplin dan seharusnya cukup mudah dikontrol, bisa terjadi dalam skala yang cukup besar, dan dalam periode yang paling kritis dalam kehidupan pemerintahan di negeri ini. Ironik juga, karena mereka mengamuk, menyatakan protes atas ketidakadilan yang terjadi, jauh di Papua. Sementara para komandannya, baik yang masih aktif ataupun yang sudah non-aktif alias purnawirawan, sedang sibuk melobi atau dilobi politik sebagai pelancar jalan para politisi memenangi salah satu gedung simbol pemerintahan di Jakarta.

Mereka nyaman, sementara prajurit yang adalah denyut nadi militer yang sebenarnya, yang siap kapan pun diperintahkan untuk maju berperang, harus melakukan tindakan pengkhianatan masal hanya untuk meminta perhatian dari petinggi militer atas kasus, yang apabila benar hanya tentang diabaikannya jenazah seorang prajurit, masuk kategori kecil. Secara tidak langsung memperkenalkan kita pada sisi lain militer yang selama ini kita kenal sebagai keras, korup dan kotor, yaitu kesetiaan. Pada sesama komrad yang senasib seperjuangan.

Gw seperti merasa terkritik, karena selama ini memukul rata militer sebagai lembaga yang korup. Mungkin ini karena yang gw lihat di media, yang jadi wajah dan perwakilan militer kita di mata dunia adalah para Jendral. Yang kehidupannya di ibukota lebih disibukkan dengan intrik-intrik politik daripada intrik militer. Hilang dalam adaptasi, mereka mungkin. Mungkin. Tapi mungkin juga karena trauma masa lalu, saat tentara berkorelasi dengan hilangnya mahasiswa, penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan-tindakan koruptif lainnya, membuat gw muak dengan merk tentara.

Kasus amukan tentara di Sentani ini sendiri kelihatannya cukup cepat ditangani, dan beritanya sebentar lagi kemungkinan akan terkubur dalam-dalam. Seperti kasus yang berhubungan dengan militer, atau kasus-kasus besar lainnya di negeri ini. Akan cepat terkubur lalu tergantikan kasus lain yang lebih besar, atau lebih kecil tapi lebih enak untuk dijadikan topik diskusi. Satu yang gw ingat dari perasaan gw saat melihat berita ini hari ini : bersyukurlah kita punya hak suara. Karena ternyata di negeri ini hanya itu nilai kita, yang harganya naik turun tiap lima tahun. Mereka yang tidak punya? Tentara, misalnya. Saat satu-satunya bargaining power yang mereka punya hilang dalam ambisi pribadi untuk mengejar kekuasaan di ibukota, entah siapa yang akan memikirkan nasib mereka. Kita?

UPDATE : Panglima TNI Jendral Djoko Santoso menyatakan permintaan maaf kepada rakyat Sentani & media massa yang terganggu kedamaiannya dengan insiden amukan tentara di Papua ini. Selain permintaan maaf, Djoko juga menjelaskan penyebab mengapa insiden ini dapat terjadi. Berikut kutipan dari beritanya di Kompas.com.

Tentang permintaan maaf :

Kondisi di sana sudah terkendali. Saya menyesalkan kejadian itu dan meminta maaf kepada masyarakat di Sentani yang terganggu kenyamanannya dan rekan-rekan media massa yang terusik keamanannya

Tentang penyebab terjadinya insiden :

Dijelaskan Panglima, kasus itu bermula dari meninggalnya salah seorang prajurit Yonif 751, Joko, yang meninggal karena sakit. Teman-teman prajurit Joko menginginkan Joko dimakamkan di Nabire sesuai pesan almarhum dalam surat wasiatnya. Namun, Komandan Yonif 751 Letkol TNI Lambok Sihotang hanya bisa memberikan bantuan biaya pengiriman separuh dari total biaya sebesar Rp 90 juta dan meminta sisanya dikumpulkan oleh para prajurit.

Kesal karena perlakuan komandannya, sektiar 100 prajurit Yonif 751 mengamuk dan menghancurkan ruangan markas serta menutup jalan di depan markas tersebut sambil menembakkan peluru ke udara. “Batalyon tidak punya kemampuan menanggung biaya sekitar Rp 90 juta, dan sisanya ditanggung secara gotong royong,” kata Panglima.

Tulisan Yang (Mungkin) Berkaitan

 
 

Warning: require(/home/setengmt/public_html/wp-content/themes/default/comments.php) [function.require]: failed to open stream: No such file or directory in /home/setengmt/public_html/wp-includes/comment-template.php on line 879