
Navinot hari ini menulis artikel yang cukup menarik, tentang outliers, sebuah sebutan dalam ilmu statistik yaitu observasi yang hasilnya menyimpang dari semua data yang lain. Sebuah “keajaiban”. Freak of nature. Namun dengan Navinot sebagai sebuah blog yang menulis tentang marketing dan teknologi, tentu dihubungkan dengan kedua ilmu tadi.
Outliers, dalam topik yang diangkat oleh Navinot, adalah sekumpulan orang yang entah muncul darimana, entah bagaimana ceritanya, bisa jadi pemimpin. Pemeran penting dalam suatu bidang kehidupan, yang seakan tumbuh, besar dan dibesarkan dalam lingkungan yang 100% tepat dan membantu peran yang akan mereka jalani di masa depannya. Sebuah kebetulan dan kebetulan, yang menciptakan kesuksesan.
Dalam judul artikelnya, atau lebih tepatnya, sebagai pertanyaan kritis dari artikelnya, Navinot menanyakan, bagaimana cara mengalahkan outliers? Apakah mungkin, kita mengalahkan orang-orang yang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin?
Jawabannya akan berbagai macam, tentu, sesuai dengan sudut pandang masing-masing pribadi. Tapi ini jawaban gw : Tidak. Tidak bisa.
Loh, kok tidak bisa? Bagaimana mungkin gak bisa?
Click to continue reading “Respons Terhadap Artikel Navinot: Mengalahkan Outliers?”
klik link untuk versi besarnya
Cuma short update aja, walau gw teteup bukan simpatisan Mega-Bowo, atau Mega-Pro, atau in fact, gw bukan fans berat salah satu dari 3 pasangan Capres-Cawapres yang akan maju dalam Pilpres kali ini, tapi jujur, mungkin ini adalah perkembangan paling menarik dari kampanye kepresidenan kali ini, setidaknya di mata gw.
Megawati, Prabowo, berkomunikasi langsung dengan massa. Lewat Twitter.
Pertama, buat yang belum join twitter, joinlah sekarang. Twitter mungkin, dari semua micro-blogging tool yang tersedia saat ini, yang paling stabil, dan yang paling menarik user-basenya. No offense untuk Plurk user, tapi kalo dari pertumbuhan Plurk dan Twitter sekarang sih, Twitter akan jadi Facebook dan Plurk akan seperti Friendster. Kenapa begitu : Karena Plurk hanya tumbuh di Asia, terutama di Indonesia, sementara Twitter tumbuh di seluruh dunia.
Oke, kembali ke Prabowo dan Twitter, gw sangat-lumayan, hmm, terkaget-kaget dengan perkembangan ini. Kaget karena setelah datangnya email bahwa gw difollow sama @megabowo, gw pun mengecek, dan di Twitter account @megabowo itu ternyata benar-benar terjadi diskusi nyata antara pengguna Twitter dan @megabowo yang mengaku adalah memang Prabowo yang ngetweet dari blackberrynya.
Jujur, gw masih meragukan keaslian account Twitter Mega-Pro, tapi kalau benar ini Prabowo yang ngetweet, menjawab dan berdiskusi dengan massa, dan sepertinya memang begitu, maka mungkin, Prabowo adalah satu-satunya figur politik, dan politisi pertama yang benar-benar mengerti esensi dari social media. Walau Prabowo sekali lagi bukan favorit gw, harapan gw cuma satu, kalau memang ini Prabowo. Kalau anda menang, saya ingin lihat anda terus ngetweet. Karena yang anda lakukan di Twitter adalah pembelajaran politik untuk politisi yang lain, bahwa komunikasi politisi dan massa bisa berlangsung secara horizontal, tidak selalu harus komunikasi vertikal dari atas ke bawah seperti sekarang.
Hanya berselang beberapa jam setelah Boediono dipilih menjadi Calon Wakil Presiden yang berpasangan dengan SBY dengan deklarasi yang megah, dihadiri oleh pemimpin-pemimpin parpol, figur-figur politik beserta massa yang tidak lebih daripada pion politis, Megawati juga ikut mendeklarasikan kesertaannya dalam Pilpres, berpasangan dengan, you guessed it, Prabowo.
Dengan deklarasi yang tidak semegah dan semewah SBY-Boed, atau entah apa nanti singkatan kedua pasangan Presiden incumbent & Gubernur BI itu, deklarasi Megawati-Prabowo cukup menarik perhatian gw. Kenapa, karena kita semua yang mengikuti perkembangan pemilu kali ini tentu akrab dengan Prabowo yang dari awal terus menekankan bahwa ia akan tetap mencalonkan diri sebagai Calon Presiden.
Ternyata akhirnya ia mundur dan memutuskan berpasangan, atau lebih tepatnya, mau turun derajat dan menjadi pasangan seorang Megawati (no offense untuk simpatisan PDI), mungkin masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk bisa dijelaskan, tapi masalah yang lebih besar (atau lebih kecil, tergatung sudut pandang anda
) adalah……gw bertanya-tanya.
Gw bertanya-tanya…..kenapa setiap Cawapres di pemilu kali ini harus KORBAN NAMA?
Pertama….Wiranto namanya mendadak dirubah jadi Win, cuma agar JK punya catchphrase yang garing, JK-Win. Beberapa blogger mengkritik keputusan ini, karena justru membuat orang bertanya-tanya dan merasa JK berpasangan bukan dengan Wiranto tapi dengan either Winarto, Winaryo atau Winanto.
Lalu sekarang, Prabowo berpasangan dengan Megawati. Barusan aja, di Metro TV (yep, sumber yg sama dengan gambar diatas), Mega pun mengambil langkah yang sama dengan JK. Kali ini, Mega dan Prabowo disingkat jadi…..Mega-Pro.
Pelanggaran. Hak. Cipta.
Selain motornya yang gak warna merah, “Motornya Lelaki” juga sepertinya akan membuat Megawati Meletup Kemarahannya
Ya, itu aja sih. Kira-kira ada yang mau kasih saran Catchphrase yang gak rada2 bego buat SBY-Boediono? Yang jelas jangan ada pelanggaran hak cipta, jangan membuat orang berasumsi Boediono adalah orang dari ras lain, dan yang sangat harus & pasti, jangan membuat kesan bahwa kedua pasangan SBY-Boediono adalah Mobilnya Perempuan.