
Ada beberapa alasan kita saat ini begitu emosi melihat Ambalat dilewati, dimasuki dan dilanggar kedaulatannya, sebagai salah satu bagian daerah dari NKRI oleh Malaysia.
Pertama adalah rasa tersinggung. Rasa dilanggar, rasa diinjak-injak oleh negara tetangga yang lebih kecil, yang selalu dianggap anak bawang –walau ratusan ribu warga negara kita mencari makan disana-.
Kedua, kita malu, karena kita tidak percaya diri. Pasti semua pernah merasakan saat merasa kurang nyaman, kurang pede dengan tempat kita berada, segala omongan dan aksi orang-orang disekitar kita akan jadi mencurigakan. Ditanya umur jadi bertanya-tanya apa baju yang kita kenakan membuat kita terlihat tua. Ditanya postur tubuh apalagi. Terlebih untuk orang yang posturnya, kalau diekspresikan dengan kata halus orang timur “sehat”. Bisa langsung kabur ke kamar mandi.
Masalahnya wajar kita tidak percaya diri. Kita tahu militer kita secara alutsista lemah. Beberapa minggu lalu Hercules jatuh, dan begitu banyak keributan tentang bagaimana buruknya alutsista kita muncul di media. Entah itu legal atau tidak. Kalau kata Panglima TNI sih illegal. Harusnya segala sesuatu tentang keburukan TNI, menjadi rahasia TNI. Apalagi tentang detail alutsista dan postur pertahanan kita yang buruk. Begitu katanya. Mereka tentu tak nyaman jadi olok-olok di medan perang. Apalagi yang bertugas di perbatasan, yang kabarnya harus berbagi makanan dengan tentara negara lain karena stok dan kiriman makanan yang kecil dan jarang datang. Kalaupun datang isinya hanya nasi dan ikan asin. Tak secanggih makanan kalengan negara yang sekarang sedang kita musuhi dengan segenap hati.
Ada yang bilang rasa tidak percaya diri bisa meningkatkan kemungkinan ketersinggungan. Rasa-rasanya sih benar. Itu untuk individual, untuk masing-masing pribadi. Bisa bayangkan efek kurangnya rasa percaya diri pada suatu negara. Contoh terbesar, walau agak jauh, mungkin Amerika. Bush, pada 2001 seperti syok bahwa pertahanan mereka bisa ditembus. Dengan mudah pesawat bisa dibajak dan diterbangkan ke gedung kembar yang gedenya gak ketulung-tulung. Pesawat itu pun besar, tapi beberapa teroris Arab berhasil masuk dan menghancurkan kedua-duanya.
Mendadak kestabilan, kemegahan dan keberhasilan Amerika seperti dihancurkan. Dan kita bisa lihat, rasa tidak percaya diri Bush pada sistem pertahanannya menimbulkan Doktrin Bush. Sebuah doktrin yang berteriak “serang dulu sebelum kita diserang” mengarahkannya ke tempat yang salah. Iraq yang dituju, padahal Bin Laden selalu berputar-putar di Afghanistan dan Pakistan. Jutaan orang harus tewas demi entah apa, dan biang pelakunya sampai sekarang belum tertangkap.
Mungkin juga justru kita terlalu percaya diri. Toh dua paragraf sebelum paragraf ini masih bisa dibaca dengan normal dan masuk diakal dengan mengganti kata “tidak” atau “kurang” dengan “terlalu”. Seperti tempat terjauh pantulan pendulum, posisi moral rakyat kita melihat masalah Ambalat. Itu setidaknya yang gw lihat sehari-hari. Antara yang takut kita kalah perang, tapi masih ingin perang demi nasionalisme –toh kita dulu menang hanya bermodalkan bambu tajam- dan yang berapi-api ingin perang karena Malaysia sudah kelewatan. Kata mereka, dengan jumlah pasukan kita yang jauh lebih banyak, kita pasti menang.
Alasan-alasan diatas tentu wajar dan bisa dimengerti. Gw pun mengerti dan hanya bisa ikut memanas-manasi situasi apabila ada obrolan seru soal Ambalat di sekeliling gw. Euforia penyatu rakyat sebesar ini memang entah kenapa seperti dirindukan Mahasiswa. 1998 seperti tahun terakhir saat demonstrasi dipandang sebagai pemersatu opini. Kini semuanya terfraksi, dan kebanyakan Demonstrasi justru dianggap sebagai kerusuhan. Entah ini salah media kita yang seperti tidak bisa membedakan antara Demonstrasi yang kalau diinggriskan jadi demonstration dengan Kerusuhan yang apabila diinggriskan jadi riot. Perbedaan kata yang membedakan makna.
Selain alasan-alasan dibalik begitu emosinya kita menghadapi kasus Ambalat, adakah yang benar-benar tahu alasan dibalik mengapa kita tidak begitu emosi melihat ada warga kita di perbatasan yang memilih menjadi warga negara Malaysia? Alutsista kita begitu kurang terawat dan tua usia? Korupsi, buruknya birokrasi dan kacaunya moral penegak hukum? Kemiskinan, pengangguran, di dalam negeri?
Ambalat punya dua alasan untuk kita maju perang terhadap Malaysia. Ribuan masalah lain didalam negeri punya jutaan alasan untk kita maju perang terhadap sikap dan kedewasaan kita sendiri. Apa anda akan maju berkelahi dengan kaki dan tangan yang senantiasa berkhianat karena rusaknya koordinasi fisik, itu terserah anda. Karena nanti kalau sudah keburu maju, gak mungkin lagi kabur ke kamar mandi mendengar tertawaan dan serangan dari sana-sini.