Archive for the ‘ Pandangan Pribadi ’ Category

25 Maret

“Kita arahkan internet kembali ke kit’ahnya yang memberi manfaat. Sehingga orang tidak takut mengakses internet dengan adanya UU ITE. Walaupun, blogger atau hacker pasti masih akan tetap ada,”

 

Roy Suryo, Pakar Pornomatika, Kompas Online 25 Maret 2008

 

“Pisau Dapur dipakai Koki untuk Masak, tapi bisa juga dipakai untuk membunuh. Jangan larang distribusi pisaunya, tapi beri edukasi kalau membunuh itu tidak baik”

 

Anonimus, Beredar di Internet 25 Maret 2008

 

Mereka Itu Malaikat

Menjaga Kita Dari Marabahaya

Mereka duduk di kursi singgasana

Menunggu pelacur mendatangi masa

Lalu Mereka ambil Pisau Tajam

Mereka Tusuk Ke Dada Mereka

Karena Mereka itu Malaikat

Mereka Menjaga Kita Dari Marabahaya

 

 Gagah Putra Arifianto, On Anggota DPR 25 Maret 2008

 

*Blokir-blokiran dan ancaman berat terhadap penyebar pornografi sudah mengguncang dunia maya. Beberapa forum seperti Bluefame dan Kaskus sudah menutup Adult subforum untuk selamanya. Tapi kita seharusnya tertawa. Loh, kalau si penyebar pornografi saja dihukum 1 Milyar, lalu bagaimana dengan pezinah dan bintang pornonya? Jangan bilang itu hak mereka. Lalu hak kami apa?

JK Nonton Ayat-Ayat Cinta

Detik.com baru aja memberitakan ‘Kalla Kagumi Sutradara Ayat-Ayat Cinta‘, sebagai akhir dari seri panjang berita gak penting ‘JK Nonton Ayat-Ayat Cinta‘ Komentar gw, satu, berita itu gak penting, dua, gak penting banget sih, tiga, ada yang aneh disini.

Yang aneh disini adalah kecendrungan para punggawa pemerintah ikut menyaksikan film-film yang sedang fenomenal saat ini. Dan yang membuat hal ini aneh adalah media sendiri sepertinya mengakui kalau apa yang dilakukan mereka memang aneh, dengan mem blow-up berita kalau mereka menyaksikan film Indonesia. Masih ingat kan cerita JK & Nagabonar jadi dua? Gw yakin, setelah JK nonton Ayat-Ayat Cinta, berikutnya akan ada seri-seri berita lain yang mungkin berjudul ‘Menteri Jalan Kaki Nonton Ayat-Ayat Cinta’ atau ‘Sebelum Menteri Nonton Ayat-Ayat Cinta Cuci Kaki Dulu, Minum Susu Baru Tidur’. Terasa seperti orde baru :(.

Menurut gw, apa yang dilakukan JK dan mungkin perangkat pemerintahan lainnya waktu dulu itu gak lebih dari usaha mereka memperbaiki imej mereka di mata publik. Gak ada yang salah dari itu, cuma terasa banget kepura-puraannya. Buat sutradara dan crew, tentu itu adalah bentuk penghargaan tertinggi dari seorang petinggi negara. Tapi pertanyaan gw, apakah semua film yang sudah pantas mendapat penghargaan setinggi itu mendapat pengakuan serupa? I don’t think so, beibeh

*Salah satu kejadian semacamnya yang menurut gw aneh adalah penghargaan SBY terhadap Kiamat Sudah Dekat. Does SBY wakes up in the middle of the night and the tv’s randomly in SCTV and he watched it accidentally without knowing that the serial is not that good (in my opinion). I don’t know. What i know is that there’s other thing to appreciate other than sinetron. Why don’t SBY invite the whole crew of detik.com? At least they’re the one who like to blow up thing in a series way. :p

Kebiasaan Ber Gua - Elo di YM!

Bukan berita baru, kalo di Internet dunia jadi terasa sempit, dan semua orang yang kita lihat dan temukan terasa seperti teman dekat dan paling akrab untuk dijadikan tempat bertanya. Bagi beberapa orang, hal ini mungkin jadi kelebihan dari dunia maya. Tapi bagi beberapa orang, terutama yang sok pinter dan sok yang paling bener gituh :( ini adalah salah satu kerugian berinteraksi di Internet.

Semuanya Jadi Maya. Palsu.

Salah satu kebiasaan aneh yang menurut gw cuma ada di Internet dan gw sendiri mengalami dan melakukannya, adalah ber-gue-elo dengan orang yang umurnya jauuuh diatas atau dibawah gw. Sebagai contoh, lihat screenshot chatting dibawah ini :

 

gw-elu2.jpg

Bisa dilihat, saat gw chatting sama seseorang yang gak tahu dateng darimana (tahu2 chatting aja =)) ) itu, gw seperti melupakan umur lawan chatting gw yang menurut berita terbaru ternyata adalah mahluk purbakala yang menemukan mesin waktu khusus untuk chatting sama gw ;)) (halah…hahaha becanda :)) ).

Pertanyaan gw, apakah ini normal? Wah gw juga gak tahu deh :p. Mungkin untuk beberapa kalangan, terutama yang gaol, ngomong gw-elo dengan orang yang uda pantas menyandang cucu dan berpoligami mungkin terlihat normal. Tapi jujur aja, kalo gw kenalan langsung sama orang yang dengan jelas terlihat lebih tua dari gw, gw dengan refleks pasti akan manggil mas atau mbak. Dan ini benar-benar terjadi. Contohnya hubungan relationship gw sama pembantu gw, si Tari. Kabar2nya, dia masih berumur 15 tahun yg berarti 2 tahun dibawah gw.

Tapi karena gw nganggep yg namanya helper (istilah kerennya pembantu) itu pasti lebih tua dari majikan dan selalu dipanggil mbak, akhirnya gw selalu manggil dia “mbak…mbak…pijitin bantuin dooong ;))” tanpa mau tahu kalo yg gw panggil itu pantes disebut adek dan gak pantes disuruh mijit, apalagi yg konotasinya negatif dipanggil mbak.

Tapi ya sudahlah, toh gak ada gunanya mikir rumit2. Anggep aja manusia yg gw ajak chatting di internet itu gak nyata, gak riil, toh mereka gak bisa  mukul gw di dunia nyata. Cuma bisa pake b-( doang.

Atau mungkin, internet telah mengakrabkan umat manusia dibanding dunia nyata? (Kayaknya sih gitu :D ) Kalo gw sih, sama Yati & onlen buddy gw yg laen emang solmet…jd ya wajar dong :p

*Post-an diatas hanya bersifat hiburan dan sama sekali tidak bermaksud menyinggung suatu individu atau lembaga. Bagi yang merasa tersinggung silahkan curhat sama Google :))

Kenapa Jadi Seleb Blog™ Itu Penting

Lucu juga ngeliat kelanjutan obrolan gw sama mbak Yati soal gimana caranya jadi seorang seleb blog™ :). Kita yang gak pernah ngerasa jadi seleb (kita…? Lu kali) dan gak terlalu (baca : sebenernya pengen juga sih) pengen jd seleb mendadak dihujani komen2 seperti “Penting ya jadi seleb dan menuai banyak komentar?” atau “penting gak penting yuuuuk kita arisan” eh? :-o itu mah gw doang ya yang ngarang :)). Sekarang, kasus yang lebih pantas disebut kaskus (karena dipenuhi komentar gak penting) ini berlanjut ke post-an berikutnya ditulis oleh pengarang yang sama, berjudul tidak etis. Apanya yang gak etis? :-o

Pertama, chettingan gw ama mbak Yati kemaren itu ya, dalam bahasa mbak Yati, dalam suasana cela-celaan :(. Dan itu juga udah melewati berbagai macam sensor oleh mbak Yati tanpa konfirmasi dari sayah sebagai narasumber, karena emang didalam chattingan kita itu juga ada pembahasan tentang sex education simas margarine yg gw tahu simbak, pacarnya simas juga gak begitu mau dipublikasikan:)). Jadi apa yang dicopykan ke dalam suatu tulisan berjudul desperate itu emang gak bisa diartiin bgitu aja karena emoticon gaya YM yg menemani kami saling mencela™ :)) juga absen dari tulisan itu. Jadinya yah gak kerasa kalo kita lagi becanda2. Mungkin untuk beberapa orang, chettingan kami kemaren itu lebih terlihat seperti orang yang desperate pingin jadi seleb (lagian ngasih judul kok desperate sih mbak [-( )

Kenapa Jadi Seleb Blog™ Itu penting

Sekarang gw ingin mempertanyakan. Apa sih sebenernya motivasi seseorang untuk bikin blog? Pasti banyak banget kan. Ada yang emang niat mo jadi seleb, dengan bikin post2 gak penting tp lebih aktif blogwalking (siapa tuuuuh ;)) ), ada yang cuma ingin dapat tempat untuk menulis, ada yang ingin curhat ke buku harian tapi karena tulisannya jelek trus milih nge-blog ajah =)), dan terakhir, ada yang ingin mempertajam ilmu menulis di blog!!!! Dan menurut gw, salah satu keuntungan menjadi seorang seleb blog™ adalah karena biasanya tulisan seleb blog™ akan terus dikomentari secara kontinyu dan dia bakal dapet feedback terus dari si pembaca. Alhasil? Tulisannya makin bagus. Itulah kenapa beberapa orang, termasuk mungkin saya, kamu dan kamu (2 teman imajinasi :)) ) ingin menjadi seorang seleb blog™. Simpel aja, karena ingin tulisannya dikomentari. Tapi tentunya, kembali lagi ke motivasi blogger itu sendiri. Kalo emang cuma mau dapet tempat untuk menulis, ya silahkan. Kayak gw gini…gw cuma pengen dapet tempat untuk mengekspresikan pikiran2 yang gak mungkin gw keluarin di lingkungan pergaulan di dunia nyata. Gitu aja. :D

Dan satu lagi, gw percaya adanya istilah seleb blog™ di Indonesia karena emang blogger2 masih pada norak2 :)). Bukannya komen di blog2 yg emang butuh komentar, tp malah mo nekat2an komentar di blog2 yg pengunjungnya banyak cuma supaya bisa diliat orang laen komentarnya. Itulah sebabnya di chettingan gw itu gw bilang “gw ntar jadi orang laen aja. Namanya rijal, dia bakal komen Pertaammaaaaxxx”. Itu karena gw mo menyindir kondisi blogosphere secara overall di Indonesia :P . Itulah yang namanya satir, bung! :D

Pengalaman Dengan Rumahweb

Hehehe…=P~bingung gw..kok gw sekarang jd sering ngepost y di blog ini :P…apa emang terjadi perubahan atau hanya tren sesaat™ ya kita liat aja nanti

Jadi ceritanya begini, tahun lalu, waktu gw lagi sibuk nyari2 hosting yang cocok buat blog gw yang baru (masih dengan brand name Setengah Mateng! :D;), perjalanan gw bertualang di dunia maya seakan gak ada abis-abisnya. Ya eyalah, bayangin aja gw musti nyari domain+hosting yg paling kompetitif dengan harga gak boleh lebih dari 200rb/tahun. Dan akhirnya? Gw dapet apa yang gw mau, bernama Rumah Web 160.

paket_blog_160.jpg

(RumahWeb juga menyediakan paket blog hosting hanya 110rb/tahun)

Udah tahu kan rahasia murahan blog ini??? :P Yup….gw memilih paket ini karena selain murah, juga udah termasuk domain dan traffic yang lumayan. Dan dibanding paket-paket including-domain yg laen, paket ini adalah yang paling murah. So, pilihan gw jatuh ke Rumahweb. Registrasi pun berlanjut. Cuma dalam waktu 3 jam, dengan bantuan Customer Service Rumahweb yg saaangaaat responsif (walau agak kaku :(;) situs gw uda naek dan tinggal gw install WP ajah. Gampang kan?

Lebih kerennya lagi, mode pembayaran di Rumahweb tuh gak cuma transaksi bank yang udah agak terasa basbang hare gene :-?, tapi bisa pake Paypal!!!! Yup, Paypal!! Inilah alasan lainnya yang membuat gw memilih Rumahweb. Gak perlu repot-repot keluar rumah, cukup keluar kamar aja minta kartu utang kredit nyokap, selesai deh proses pembayaran blog gw :> . Kalo dilist, berikut keuntungan menggunakan jasa Rumahweb dibanding blog hoster lainnya :

  • Paket Blog Hosting kompetitif
  • Sudah termasuk domain
  • Customer Service Responsif, 24 jam termasuk hari libur (waktu gw register itu hari minggu)
  • Pembayaran bisa menggunakan transfer melalui enam bank terkemuka
  • Juga bisa melalui Paypal & E-gold 

Jelas kan? Sangat menarik untuk blogger yang mau upgrade blogging yang lebih serius (gak gratisan lagi kayak wordpress.com atau blogger.com :P;) atau blogger yang mo iseng2 tapi serius (kayak gw :));).

N.B : Nah, sekarang gw dan blog gw ini juga udah berafiliasi dengan RumahWeb :P jadi kalo mo daftar ke Rumahweb dan udah baca pengalaman baik gw dengan Rumahweb, silahkan daftar melalui referall gw, klik banner Rumahweb di sebelah kiri atas blog ini. :D Gak jadi lebih mahal kok kalo daftar melalui gw. Semuanya sama.

Anda Terlalu Muda Untuk Bisa Bersuara

Menurut lo, aneh gak judul diatas? Menurut gw sih, aneh banget! Pertama, umur gw masih 17 tahun. So…gw gak bisa dibilang tua2 amat kan :lol: . Dan setiap harinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, perlakuan seperti judul diatas sering banget gw hadapin. Lucunya, perlakuan-perlakuan kayak begini memang sudah seperti unspoken tradition pada perjalanan kehidupan manusia. Kita semua dilahirkan untuk menjadi tua, untuk mendapatkan banyak pengalaman, dan setelah mengeruk banyak pengalaman dari sesuatu yang bernama kehidupan, maka anda siap untuk dicap “Bijaksana” atau, “Dituakan” atau “Kepala suku”. Eh :???: yang terakhir salah kali ya :lol: …..tapi ya gak terlalu beda jauh sih. Menurut gw sendiri, tindakan atau perlakuan diskriminatif terhadap anak muda itu sendiri terjadi karena dalam sejarahnya, pada masa lalu sekelompok manusia selalu dipimpin oleh kepala suku yang paling tua di kelompoknya. Kenapa begitu? Karena memang pada masa itu tua dijadikan ketua (tuh, namnya aja ke-tua…gak ada yang namanya ke-muda :grin: ) karena ia memiliki pengalaman yang lebih daripada yang lain. Pada masa itu, untuk bertahan hidup yang bisa diandalkan memang hanya pengalaman. Misal, pada suku pemburu paus, yang menjadi  ketua adalah yang paling punya pengalaman dalam berburu paus. Kalau yang dipilih anak muda, yang terjadi ya gak ketangkep Pausnya. Ya eyalah…..gimana bisa nangkep paus kalo perang ngelawan jerawat aja gak menang2 (jayus mode : on :razz: ).

Lalu sekarang pertanyaannya, dengan tradisi masa lalu dan praktek semacam ini yang masih terus (walau tanpa secara langsung dilakukan) terjadi di dunia ini, masih pantaskah kita menganggap yang tua yang bijaksana? Sekarang, gw akan coba memberikan 3 pertanyaan simpel yang harusnya bisa dijawab kaum ‘bijaksana’ dengan mudah. Berikut pertanyaannya :

  1. Pada pemerintahan, golongan umur berapakah yang paling sering tertangkap karena kasus korupsi? Tua atau muda?
  2. Pada saat suatu rezim melakukan kesalahan atau telah bertindak anarkis pada rakyatnya sendiri, golongan umur berapakah yang datang lari-lari mengingatkan untuk melakukan revolusi (atau reformasi)? Tua atau muda?
  3. Setiap 10 tahun, kualitas pendidikan meningkat seiring waktu. Lalu ternyata apa yang dipelajari lulusan S1 tahun 1970-an ternyata hanya pelajaran tingkat SMA pada 2000-an. Lalu siapa yang memiliki tingkat kualitas pendidikan tertinggi? Tua atau muda?

Kalau memang jawaban dari ketiga pertanyaan diatas memang muda, lalu apa alasannya menganggap yang tua yang paling bijaksana. Dalam anggapan gw, yang paling tepat adalah menempatkan seseorang pada tempatnya yang sesuai, bukan karena umur, ras, agama, dan sebagainya. Ini udah millenium bro, dan menurut gw udah saatnya anak belasan tahun memimpin suatu perusahaan karena dia punya ide segar. Wait a minute. Bukankah post yang gw buat ini juga sudah membeda-bedakan manusia berdasarkan umur?

N.B : Postingan ini muncul ke pikiran gw waktu hangout ke Margo City tadi siang. Om gw yang masih berumur 33 tahun, dengan filosofi kehidupan miskin tapi bahagia itu bullshit, gw kasih pertanyaan “Kalo om anak angkat, terus orang tua om yang asli itu orang kayaaa rayaaa banget, sementara orang tua yang ngangkat om biasa-biasa aja, tapi om sudah terbiasa dan sudah sayang banget sama orang tua yang ngangkat om jadi anak. Nah sekarang masalahnya, orangtua om yang asli minta om milih, mau tinggal apa mereka apa sama orang tua om yang udah ngangkat om bertahun2. Berarti disuruh memilih antara uang atau perasaan kan? Nah, om lebih memilih kaya-raya dengan perasaan merana atau perasaan bahagia dengan uang tak seberapa?”. Om gw menjawab, “ya gak bisa dong…kalo ditanya gitu om jawab mau dua-duanya, hak dari orangtua asli dapet, tapi tetep tinggal ama orangtua angkat om” :roll: “ya gak bisa dong….pada kenyataannya manusia kan emang gak pernah bisa memilih dua pilihan waktu dikasih pertanyaan…harus memilih salah satu” eeeeh…om gw langsung bilang gini “ya pokoknya kalimat-kalimat biar miskin yang penting bahagia itu cuma kalimat penghiburan aja, bullshit” ya gw jawab lagi “loh…ya jawab dulu dong mo pilih uang apa perasaan” dan om gw cuma menjawab, “ah…Gagah belom ngerasain apa-apa, umur Gagah baru 17 tahun, belom ngerasain apa-apa dibanding om” dengan kata lain : “umur Gagah baru 17 tahun, jadi gak usah sok-sok berteori deh…” :razz: nah…waktu itulah gw berpikir…apa emang tua itu segalanya? Menurut anda-anda pembaca bagaimana?

Tentang Jalan Rusak

Sebelum baca ini, ada dua hal yang musti gw akuin :

1. Gw belom pernah naek busway (karena gw norak)

2. Jalan rusak disini akan gw asumsikan dari kerusakan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang dalam setahun gw lewatin 2 kali waktu mudik dan liburan (bokap gw kerja di PTBA).

Pernah kan ngelewatin jalan rusak? Naek motor? Atau naek mobil? Merasa terganggu gak? Menurut gw sih, pastinya! Ya eyalah…coba aja bayangin lo naek motor dengan kecepatan setengah ngebut (maksudnya kira2 80km/jam :D ), trus tiba2 di depan lo ada lobang becek menganga selebar 1 meter. Apa yang terjadi?

  • Lu ngerem mendadak, sampe badan lo ngegelesor ke depan jok motor
  • Lu terus aja ngantem lobang itu, hasilnya jatoh dari motor, benjol2 en’ masuk rumah sakit
  • Berusaha manuver gaya MotoGP, lengkap dengan tepuk tangan dan sorakan dari pedagang2 asongan dan pejalan kaki

Sekeren apapun keliatannya, menghadapi jalan berlobang tentu aja nganggu. Gak semengganggu Radja atau Kangen Band sih, tapi ya yang pasti nganggu. Nah pertanyannya, kenapa jalan bisa rusak? Lalu kalo emang udah rusak, siapa yang bertanggung jawab membetulkan?

Jawaban dari pertanyaan diatas (2 pertanyaan tepatnya :P ) secara resmi harusnya bisa ditanyakan langsung media ke pejabat yang bersangkutan. Tapi sebagai orang awam dan orang kecil (khas komentar rakyat Indonesia kalo ditanya wartawan), gw akan menjawab dengan lantang, Pemerintah! Ya eyalah…bukannya pemerintah yang paling salah? Kan pemerintah yang bikin jalannya gak sesuai standar alias udah dikorupsi duit buat bangun jalannya, sampe2 bikin jalan yang gradenya dibawah standar. Yeap! Hampir benar! Tapi sayangnya, jawaban yang sesuai bukanlah itu.

Jawaban yang benar, adalah ada kesalahan sistemik pada pengelolaan jalan di republik ini. Walau gw bukan expert dan cuma orang kecil ( :lol: ), tapi gw tahu dan pernah nngelewatin jalan lintas sumatera, baik lintas timur atau selatan (CMIIW, gw gak tahu yg satunya lagi itu selatan atau utara), dan yang gw lihat paling merusak jalan adalah bukan lagi kualitas aspal. Kalo dulu mungkin kita uda akrab dengan  aspal yang saking banyak batu cornya kita gak bisa roller-skatean di jalan itu. Kalo nekat, ya rasain aja sendiri pala lo bengkak. Tapi sekarang, rata-rata jalan di Lintas Timur sudah menggunakan aspal Hotmix yang (kalo baru diaspal) muluuuus banget jalannya :) . Yap! Yang paling merusak justru kendaraan yang lewat diatasnya!!! Gw sering banget liat truk-truk kelas berat yang bahkan dengan cuma melihat sebelah mata (mata gw yg satu, lagi tiduran) kita bisa tahu beratnya sudah melebihi 3 ton berat maksimal yang bisa dihandle oleh jalan. Contoh :

Antrean Truk di Merak

(Antrean Truk Di Merak; Foto diambil dari http://imnbanten.wordpress.com/ menunggu permisi)

Bisa dilihat, foto diatas sangat gak menunjukan antrean truk yang berprikemanusiaan (baca : legal). Bayangin aja jadi jalan yang harus menghandle ribuan dari truk semacam ini setiap harinya. Apa gak bolong-bolong itu jalanan.

Lalu sebenernya apa yang terjadi? Apa ini cuma ‘kenormalan’ biasa? (tipe kenormalan yang ‘hanya di Indonesia’) Atau ada sebuah praktek yang salah pada manajemen jalan di negeri ini? Jawabannya, dua-duanya benar! :lol: Ya eyalah, saking udah terbiasanya kita dengan bikin KTP bayar 100rb, SIM 300rb, dll, kita jadi gak terlalu sensitif lagi dengan praktek ilegal di depan mata kita. Jadi mo dibilang normal ya normal-normal aja kok. Tapi jawaban kedua lebih pantas menjadi sebuah jawaban karena kita saat ini sedang dalam proses reformasi, restrukturisasi, dan (favorit gw dan temen gw, SBY :D ) revitalisasi. Terjadi di depan mata gw sendiri waktu mudik tahun lalu, ada antrian panjang di depan mobil gw, dan antrian didepan gw itu terdiri dari truk-truk kontainer yang panjangnya naujubileh. Gw waktu itu mikir, “wah…akhirnya tegas juga pemda sumsel”. Dan tahu gak apa yang terjadi? Gak lebih dari lima menit, antrian truk yang tadi berhenti itu jalan lagi setelah menyerahkan beberapa lembar uang yang juga gw saksikan sendiri di depan mata gw. Lalu apa ini memang denda atau korupsi? Gak tahu. Yang pasti, gak pantes aja mengeruk uang dari ketidaknyamanan rakyat.



Hosted in Dracoola Multimedia