Archive for the ‘ Suara Hati ’ Category

Agama Karena Apa?

Agama Karena Kita Percaya?

Atau Karena Dipaksa?

Atau Cuma Karena Takut Akan Neraka

Dan Tak Ingin Tubuh Habis Dibakar Api Jelaga?

*habis baca postingan mas SHALEH tentang Jilbab, trus buka halaman write page, bingung mau nulis apa akhirnya cuma nulis2 kalimat-kalimat garing kayak gini….. :roycape:

Mengheningkan Cipta Untuk Internet Indonesia

Untuk sementara gua akan mengheningkan Cipta.


Menghindari blogwalking dan lari dari kenyataan.


Bahwa Youtube diblokir sebagai keputusan politis.


Bahwa Multiply Ditutup Agar “Bad Content” di Internet bisa Dihindari.


Bahwa Depkominfo ingin menciptakan dunia khayal mereka tanpa kejahatan dan tanpa godaan setan.


Bahwa semua hasil search google “Indonesia Blocks Youtube” hanya akan menghasilkan komentar negatif dari rakyat Dunia atas negara kita.


Bahwa sekarang gua harus pake Proxy Thailand untuk ngebuka materi pelajaran gw sendiri.


Bahwa pada akhirnya, pemerintah selalu merasa bisa mengubah dunia dengan memaksakan kehendak.


Bahwa kita tidak lebih daripada negara munafik pembenci Demokrasi.


Bahwa kini, blog ini akan diistirahatkan.


Terima kasih.

25 Maret

“Kita arahkan internet kembali ke kit’ahnya yang memberi manfaat. Sehingga orang tidak takut mengakses internet dengan adanya UU ITE. Walaupun, blogger atau hacker pasti masih akan tetap ada,”

 

Roy Suryo, Pakar Pornomatika, Kompas Online 25 Maret 2008

 

“Pisau Dapur dipakai Koki untuk Masak, tapi bisa juga dipakai untuk membunuh. Jangan larang distribusi pisaunya, tapi beri edukasi kalau membunuh itu tidak baik”

 

Anonimus, Beredar di Internet 25 Maret 2008

 

Mereka Itu Malaikat

Menjaga Kita Dari Marabahaya

Mereka duduk di kursi singgasana

Menunggu pelacur mendatangi masa

Lalu Mereka ambil Pisau Tajam

Mereka Tusuk Ke Dada Mereka

Karena Mereka itu Malaikat

Mereka Menjaga Kita Dari Marabahaya

 

 Gagah Putra Arifianto, On Anggota DPR 25 Maret 2008

 

*Blokir-blokiran dan ancaman berat terhadap penyebar pornografi sudah mengguncang dunia maya. Beberapa forum seperti Bluefame dan Kaskus sudah menutup Adult subforum untuk selamanya. Tapi kita seharusnya tertawa. Loh, kalau si penyebar pornografi saja dihukum 1 Milyar, lalu bagaimana dengan pezinah dan bintang pornonya? Jangan bilang itu hak mereka. Lalu hak kami apa?

Sedihnya jadi anak SMA™

Abis baca blog Kanye West, ada foto2 sneakers yg bikin mata rasanya maju 10 senti karena pingiiiin!!!   >:P

sneakers1.jpg

sneakers2.jpg

sneakers3.jpg

sneakers4.jpg

sneakers5.jpg

Setelah browsing2 di internet yg biasa aja harganya mahal2 banget =((  kapan dong anak SMA bisa dapet gaji bulanan dan bisa shopping dengan nyaman? :((

Mungkin emang harus lebih kreatif ya…..duh…musti cari ide sesuatu yg menghasilkan uang nih…. :| ada yg mo nerima gw jadi anak angkat™? ;;)

N.B : Setelah diiinstall emoticon YM…entah kenapa post ini jd terasa sangat kebanci2an =))

Anda Terlalu Muda Untuk Bisa Bersuara

Menurut lo, aneh gak judul diatas? Menurut gw sih, aneh banget! Pertama, umur gw masih 17 tahun. So…gw gak bisa dibilang tua2 amat kan :lol: . Dan setiap harinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, perlakuan seperti judul diatas sering banget gw hadapin. Lucunya, perlakuan-perlakuan kayak begini memang sudah seperti unspoken tradition pada perjalanan kehidupan manusia. Kita semua dilahirkan untuk menjadi tua, untuk mendapatkan banyak pengalaman, dan setelah mengeruk banyak pengalaman dari sesuatu yang bernama kehidupan, maka anda siap untuk dicap “Bijaksana” atau, “Dituakan” atau “Kepala suku”. Eh :???: yang terakhir salah kali ya :lol: …..tapi ya gak terlalu beda jauh sih. Menurut gw sendiri, tindakan atau perlakuan diskriminatif terhadap anak muda itu sendiri terjadi karena dalam sejarahnya, pada masa lalu sekelompok manusia selalu dipimpin oleh kepala suku yang paling tua di kelompoknya. Kenapa begitu? Karena memang pada masa itu tua dijadikan ketua (tuh, namnya aja ke-tua…gak ada yang namanya ke-muda :grin: ) karena ia memiliki pengalaman yang lebih daripada yang lain. Pada masa itu, untuk bertahan hidup yang bisa diandalkan memang hanya pengalaman. Misal, pada suku pemburu paus, yang menjadi  ketua adalah yang paling punya pengalaman dalam berburu paus. Kalau yang dipilih anak muda, yang terjadi ya gak ketangkep Pausnya. Ya eyalah…..gimana bisa nangkep paus kalo perang ngelawan jerawat aja gak menang2 (jayus mode : on :razz: ).

Lalu sekarang pertanyaannya, dengan tradisi masa lalu dan praktek semacam ini yang masih terus (walau tanpa secara langsung dilakukan) terjadi di dunia ini, masih pantaskah kita menganggap yang tua yang bijaksana? Sekarang, gw akan coba memberikan 3 pertanyaan simpel yang harusnya bisa dijawab kaum ‘bijaksana’ dengan mudah. Berikut pertanyaannya :

  1. Pada pemerintahan, golongan umur berapakah yang paling sering tertangkap karena kasus korupsi? Tua atau muda?
  2. Pada saat suatu rezim melakukan kesalahan atau telah bertindak anarkis pada rakyatnya sendiri, golongan umur berapakah yang datang lari-lari mengingatkan untuk melakukan revolusi (atau reformasi)? Tua atau muda?
  3. Setiap 10 tahun, kualitas pendidikan meningkat seiring waktu. Lalu ternyata apa yang dipelajari lulusan S1 tahun 1970-an ternyata hanya pelajaran tingkat SMA pada 2000-an. Lalu siapa yang memiliki tingkat kualitas pendidikan tertinggi? Tua atau muda?

Kalau memang jawaban dari ketiga pertanyaan diatas memang muda, lalu apa alasannya menganggap yang tua yang paling bijaksana. Dalam anggapan gw, yang paling tepat adalah menempatkan seseorang pada tempatnya yang sesuai, bukan karena umur, ras, agama, dan sebagainya. Ini udah millenium bro, dan menurut gw udah saatnya anak belasan tahun memimpin suatu perusahaan karena dia punya ide segar. Wait a minute. Bukankah post yang gw buat ini juga sudah membeda-bedakan manusia berdasarkan umur?

N.B : Postingan ini muncul ke pikiran gw waktu hangout ke Margo City tadi siang. Om gw yang masih berumur 33 tahun, dengan filosofi kehidupan miskin tapi bahagia itu bullshit, gw kasih pertanyaan “Kalo om anak angkat, terus orang tua om yang asli itu orang kayaaa rayaaa banget, sementara orang tua yang ngangkat om biasa-biasa aja, tapi om sudah terbiasa dan sudah sayang banget sama orang tua yang ngangkat om jadi anak. Nah sekarang masalahnya, orangtua om yang asli minta om milih, mau tinggal apa mereka apa sama orang tua om yang udah ngangkat om bertahun2. Berarti disuruh memilih antara uang atau perasaan kan? Nah, om lebih memilih kaya-raya dengan perasaan merana atau perasaan bahagia dengan uang tak seberapa?”. Om gw menjawab, “ya gak bisa dong…kalo ditanya gitu om jawab mau dua-duanya, hak dari orangtua asli dapet, tapi tetep tinggal ama orangtua angkat om” :roll: “ya gak bisa dong….pada kenyataannya manusia kan emang gak pernah bisa memilih dua pilihan waktu dikasih pertanyaan…harus memilih salah satu” eeeeh…om gw langsung bilang gini “ya pokoknya kalimat-kalimat biar miskin yang penting bahagia itu cuma kalimat penghiburan aja, bullshit” ya gw jawab lagi “loh…ya jawab dulu dong mo pilih uang apa perasaan” dan om gw cuma menjawab, “ah…Gagah belom ngerasain apa-apa, umur Gagah baru 17 tahun, belom ngerasain apa-apa dibanding om” dengan kata lain : “umur Gagah baru 17 tahun, jadi gak usah sok-sok berteori deh…” :razz: nah…waktu itulah gw berpikir…apa emang tua itu segalanya? Menurut anda-anda pembaca bagaimana?

Indonesia Adalah Negara Pemarah

Sekali lagi, gw marah.

Gw marah bukan karena seseorang memukul kepala gw sampe berdarah.

Bukan juga karena kaki gw ditendang orang sampe biru.

Gw Marah karena gw pengen marah aja. Kata orang, marah itu gak ada gunanya. Dia hanyalah luapan emosi yang disebabkan suatu kondisi yang gak sesuai dengan keinginan kita. Itu kata orang.

Indonesia sekarang sering sekali marah. Marah karena sesuatu yang gak sesuai dengan keinginan Indonesia. Tapi anehnya, cukup biarkan kondisi itu selama dua-tiga bulan. Kita pasti gak marah lagi kok.

Apa kita pemaaf?

Atau pelupa?



Qassia