Posts Tagged ‘ dari ’

Mimpi & Khayal

Hasil Dari Chat Gw dan Kakak gw pada sore yang dingin itu :

yang membedakan mimpi dan khayalan adalah : Mimpi membuat kita bangun setiap hari dan berusaha mencapainya, sementara khayalan muncul sebelum kita bangun dan mengejar mimpi…

Quoted from Gagah Putra Arifianto yg mendadak dangdutan yok neng wise.

Saat Mereka Datang Dan Saat Tiada Pilihan

Hari ini, (kemarin tepatnya, sekarang gw lagi begadang gak jelas, nontonin Cartoon Network :( ) datang orang dari Indosat yang dijanjikan setelah surat pembaca gw muncul di koran Sindo. Dengan cepat, hanya berjarak 2 jam setelah koran Sindo itu gw baca, ada orang Indosat yang nelpon gw, bilang hari ini bakal ada tekhnisi mereka yang datang.

Mereka datang, sudah membawa ketidakjelasan yang jelas. Mereka bilang, kesini untuk “mengecek apa ada masalah koneksi dari komputer gw ke server mereka”. Suatu kalimat yang sudah gw prediksi sebelumnya, based on apa yg gw baca di forum majalah Chip, subforum representatif IndosatM2 yang sampai saat ini tim (atau orang) dari representasi Indosat sama sekali belum muncul menjelaskan masalah apa yang sebenarnya terjadi.

Bla-bla-bla dan Yaba-yaba-yaba, gw males nyeritain detailnya krn selain useless, gw juga capek seharian ini :( , terakhir, saat gw dan mereka berdiskusi di ruang tamu rumah gw, mereka meminta kesepakatan dari gw untuk “gimana deh enaknya mas Gagah aja” ngirimin surat ke Sindo meluruskan masalah ini. Gw pun bilang “Mas. Saya kirim surat ke Sindo itu karena ada masalah. Masalahnya adalah saya cuma dapet 10% dari apa yang saya bayar 100%. Selama masalah itu belum ada penyelesaiannya dari Indosat, maka saya akan tetap ngirimin ke Sindo bahwa belum ada penyelesaian dari pihak Indosat mengenai masalah yang saya dapat”. Done? Ini tentunya menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa orang yang e-mail ke gw nanya kalo gw disogok suvenir ma Indosat, kira2 gw diem gak? Jawabannya, Tidak. Dengan T kapital.

Lalu tadi, di forum representatif Indosat forum Chip mendadak muncul post-an yang bernada kontroversial dan mencurigakan. Post-an ini muncul setelah gw melaporkan detail kedatangan orang Indosat kerumah gw. Berikut postingannya :

Walah.. daripada bingung-bingung, ganti ISP aja boss. Kita ngomel-ngomel seperti apapun, kalau memang produknya mereka bilang share up to, ya tetep aja rebutan ama user yang lain.
Kan kalau kita berenti gak ada konsekuensi apa-apa buat kita, gak ada kontrak minimal langganan kan ?

Postingan diatas, dengan cepat menyulut emosi beberapa customer Indosat dan gw sendiri.

Pertama, post-an diatas entah kenapa terasa sangat mencurigakan. Suara ketidakpuasan atas komplain konsumen, kalau dilihat dari sudut pandang konsumen, baru pertama kali ini gw liat terjadi. Apa beliau yang ber-username Encarta di forum CHIP ini adalah orang dari IndosatM2? :-\

Kedua, post-an diatas sangat pointless dan ngaco. Yup, memang paketnya up-to. Tapi gw kira wajar customer ngomel-ngomel karena koneksinya yang mendadak ngaco serentak disemua tempat, dua minggu yang lalu. Dari yang sebelumnya kita dapet speed hasil speed test di speakeasy atau speedtest.net minimal 700 kbps, sekarang cuma bisa maksimal 200 kbps. Gila kan? Itu maksimal loh. Kebanyakan speedtest yang gw dapat berkisar di 100-an kbps. Pertanyaannya adalah, apa konsumen sudah dirugikan? Jelas sudah.

Disini, gw adalah mantan konsumen IndosatM2 paket 384kbps, sebelum diupgrade ke 1mbps. Rasa sakit hati gw mungkin gak akan sesakit rasa customer-customer baru Indosat yang dijanjikan speed up to 1mbps tapi cuma dapet speed 100kbps. Berasa ditipu kan? Wajar dong kita komplain.

Oh ya, mungkin beberapa orang menanyakan kenapa gw kok ribut banget internet gw lambat, sampe nulis surat2 pembaca segala. Jawabannya adalah, karena untuk saat ini, kehidupan gw paling banyak berputar di Internet. Gw berkonsultasi dan belajar tiap hari, kalo gak ada schedule tutor dateng, lewat YM. Kebiasaan gw, invis chat ama Tutor, sambil donlot MP3 atau film. Dulu, kegiatan ini bisa dilakukan dengan nyaman. Tapi sekarang? Hampir selalu kalau gw lakukan kegiatan yg sama, terjadi dc yang berulang2 dan gw pun gak bisa browsing dengan nyaman. Speed browsing terbagi dengan speed download, jadinya lebih parah dari Dial-Up. :(

Lalu sekarang, di Depok gak ada pilihan untuk internet unlimited kecuali wireless yang sama gak stabilnya sama Indosat saat ini. Apa customer dipaksa memilih yang sama buruknya? Indosat eh Indonesia banget sih.

Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 1)

Seorang anak berjalan pelan menuju pintu toko di sebuah pasar kumuh pinggiran kota. Anak bernama Muhammad itu berjalan pelan, gontai, seakan tidak ingin langkahnya terdengar orang-orang di sekitarnya. Itu percuma, karena penampilannya saja sudah menarik perhatian para pedagang dan pengunjung yang menjalankan aktivitas harian di pasar. Ia terus berjalan, pandangannya lurus kedepan, memandang sesuatu yang tidak ada di mata orang lain, tapi terlihat jelas di rona matanya. Biru, mata anak itu. Sementara bajunya yang rapi dengan kemeja berwarna putih dan celana jeans biru semakin memperlihatkan perbedaan diantara celana pendek kusut dan kaos hitam lusuh yang dipakai orang-orang di sekitarnya.

Begitu sampai di depan Toko Bang Ali yang dituju, tangannya bergerak pelan mendorong pintu masuk kaca yang menandakan bagaimana besarnya toko Bang Ali dibanding toko yang lain. Ia lalu masuk, dengan mata yang terus terarah lurus kedepan, tanpa memandangi kasir atau para pembeli yang terus memperhatikan langkahnya di meja pembayaran. Ia terus berjalan menuju rak B3, rak yang menurut tulisan diatasnya adalah rak untuk “Popok & Perlengkapan Bayi”. Bergerak untuk pertama kalinya, bola matanya yang berwana biru itu tertunjuk pada rak popok. Tangan putihnya lalu bergerak perlahan mengambil satu pak popok bayi berwarna biru, tanpa memperhatikan bungkusan-bungkusan popok merek lain yang banyak disusun disana. Entah karena ia sudah tahu merek popok yang akan dibelinya dari awal atau memang ia diperintahkan untuk membeli merek “biru” yang sekarang dipegangnya. Langkah gontainya lalu kembali terayun, menuju meja kasir. Ia mengantri, sementara didepannya dua atau tiga ibu-ibu yang sudah mengantri sebelumnya sibuk mendiskusikan sesuatu yang sepertinya tentang anak yang mengantri hanya beberapa senti dari mereka.

Tanpa sadar kalau anak itu mendengar diskusi mereka, kata demi kata terlontar dari mulut mereka. Mereka berbicara tentang bagaimana anak itu kabarnya adalah anak dari salah satu koruptor kaya-raya yang sekarang ditahan dan sedang diadili. Mereka berbicara tentang bagaimana harta anak itu dan keluarganya telah disita, dihabisi dan dikosongkan dari rumah mereka yang besar di tengah megahnya kota Jakarta. Diskusi mereka mendadak terhenti oleh suara telepon genggam di belakang mereka. Sekejap mata mereka memandang kebalik punggung mereka sendiri, terkaget dengan adanya anak yang mereka gosipkan dari tadi. Anak itu dengan lunglai merogoh kantung celananya. Ditariknya sebuah telepon genggam yang sepertinya adalah sisa-sisa dari kejayaan keluarganya yang seluruhnya dipenjara karena korupsi. Telepon genggam itu kini terpegang erat di tangannya, terarah ke telinga yang baru saja dipaksa mendengar keburukan keluarganya sendiri dari mulut orang lain. “Halo?” katanya lemah. Suaranya, yang baru terdengar sejak tadi, sedikit menggetarkan hati para ibu didepannya. Mereka merasa bersalah, membicarakan sesuatu tentang keluarga seorang anak yang sekarang kelihatan begitu lemah. Anak yang umurnya tidak lebih dari 13 tahun tapi tidak kurang dari 11 tahun itu seperti sudah ditarik semua semangatnya. Ia menjawab dengan nada datar, seakan tidak ada lagi yang ia tunggu atau ia harapkan. “Aku di pasar dek. Iya, kakak sebentar lagi pulang. Adek yang tenang, banyak minum” katanya lemah. Nadanya sedikit menyemangati, yang kelihatannya ditujukan untuk adiknya. Ibu-ibu didepannya, terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, padahal terus mendengarkan. Mereka sepertinya telah membuat kesimpulan masing-masing setelah mendengar pembicaraan yang hanya bertahan lima menit itu. Selesai bicara, anak yang tadi mereka bicarakan dengan berapi-api itu kini kembali ke keadaan sebelumnya, tidak mengeluarkan suara apapun kecuali nafasnya yang sesekali dihembuskan seperti orang yang sedang menahan suatu beban berat.



Hosted in Dracoola Multimedia