Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Keluhan Sedih di Sore Hari

sbyeyes

Saya bukan pengamat politik.

Apa mengamati berita politik (dan teknologi tentunya, dan gosip selebriti) menjadikan saya seorang pengamat? Menjadikan pandangan saya pantas untuk dijadikan saran bagi 32 partai politik dan figur-figurnya yang akan “beraksi” di pemilu kali ini?

Yang jelas, dalam pandangan saya tidak semua orang yang “bermain” dalam kancah politik pemerintahan sepertinya tahu segalanya. Wakil Ketua Partai Demokrat di DPP Pusat DKI Jakarta keselip lidah beberapa minggu lalu yang mengakibatkan hubungan antara Partai Demokrat dan Golkar hancur lebur. Kini sang pemimpin Golkar, sang saudagar kaya bernama JK itu menyatakan siap dicalonkan menjadi capres untuk melawan sang Presiden yang kini masih jadi “bos”nya, SBY.

Ini adalah permainan politik yang sungguh kocak. Kocak, kotor, dan penuh emosi. Tapi apa politik adalah dunia yang membutuhkan emosi, layaknya dunia lain di dunia selain bisnis dan segala hal yang membutuhkan logika, saya tidak tahu. Banyak yang saya lihat di politik di negeri ini adalah politik tanpa emosi. Sementara setiap 5 tahun janjinya seabreg-abreg, yang kejadian paling satu, dua. Wajar kalau banyak yang gak percaya lalu nekat golput, walau dengan golput berarti mengabaikan hak sendiri dan mendorong kehancuran ke jurang yang lebih dalam. Tapi itu wajar. Itu tetap hak.

Politik, dalam konteks pemilu sebagai perputaran tampuk kekuasaan di level paling tinggi dalam pemerintahan sesungguhnya adalah indikator keberhasilan sebuah pemerintah, sebuah kepemimpinan, untuk merawat dan mendapatkan kepercayaan pemilih. Pemilih, atau konstituen, sebuah istilah yang sering dijadikan anggota DPR untuk bolos rapat, punya hak tertinggi untuk mencopot “orang-orang bejat” itu dari kursi nyamannya di DPR.

Tapi selalu ada celah di Indonesia. Celah yang sampai sekarang seperti malas dibenarkan oleh para punggawa-punggawa politik yang ngaku paling pinter itu. Celah yang harusnya kita sadar perlu dibenarkan, dan kita harus menyingkirkan siapa saja yang menolak untuk membenarkannya. Celah itu adalah, transparansi.

Semua orang di Indonesia saya pikir sadar dengan adanya celah ini. Tapi untuk saya sendiri, permasalahan “celah” ini baru muncul secara alami dalam pembicaraan dengan om saya yang tahun ini mencalonkan diri sebagai anggota legislatif DPRD DKI Jakarta. Dia bilang, di salah satu partai yang sekarang sedang gencar banyak menggunakan uang palsu. Uang itu diterima di Indonesia, tapi tidak di luar negeri. Lalu uang-uang kotor partai, termasuk partai yang diikutinya pun ia jabarkan. Tidak hanya itu saja. Masalah yang sebelumnya pernah saya lontarkan di postingan sebelumnya, yaitu transparansi hasil legislasi para anggota DPR/DPRD pun sepertinya memang tidak akan pernah diberikan ke publik.

Informasi semacam itu tentu berbahaya untuk internal partai. Tapi ini perlu dipermasalahkan. Dan fungsi sosial yang mengontrol masalah-masalah seperti ini harusnya adalah media. Tapi dimana posisi media saat ini? Kita tidak tahu. Saat Metro TV dimiliki figur politik tinggi Golkar, TVOne seperti milik Golkar juga, bersama dengan ANTV. TransCorp? Ehem. RCTI, SCTV?

Dimana media elektronik kita yang independen?

Hanya koran. Dan sedikit sekali orang Indonesia yang sekarang baca koran. Kalau baca pun cuma “baca”. Langganan untuk dikumpulin trus dikiloin.

Ini menyedihkan. Dan kalau anda terlalu sedih dan bingung membaca postingan ini, gak usah komen. Cukup bantu doa aja. Karena dalam posisi kita yang serba bingung ditengah “pesta” tahun ini, doa adalah yang paling murah. Yang tidak bisa dibeli dengan uang palsu, dan ditaruh dalam amplop coklat tebal. Semoga saja nanti ada, waktu saat legislator kita mau transparan dalam menjalankan republik ini. Dan tidak perlu ada lagi, keluhan sedih di sore hari seperti ini.

 
 

Mengapa KPK Dilarang Membangun Gedung Baru?

Ah….ini yang gua benci. :(

Kemunafikan, kemunafikan, dan kemunafikan lagi dari Gedung Parlemen kita yang terhormat itu. Gedung ijo berisi “orang-orang terpintar” Indonesia yang ternyata menurut hasil survey banyak yang belum lulus S1 dan minim pengalaman kerja sebelum mengisi gedung DPR.

Ini menyedihkan.

KPK Dilarang membangun gedung baru, sementara DPR justru ngotot akan merenovasi gedungnya, kalo perlu membangun gedung baru.

Enak ya pegang kontrol anggaran. Apa-apa bisa diiyakan. DPR bersikap tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga serakah yang punya dana gak terbatas. Pelit, tapi boros untuk diri sendiri. Berguru dengan istri sendiri?

Eh ntar dulu. Rupanya DPR memberikan pilihan ke KPK, tambah pegawai atau buat gedung baru? KPK memilih tambah pegawai. Padahal, gedung baru juga penting, kata Antasari Azhar. Ya tentu aja penting. Kebanggaan organisasi itu penting, karena meningkatkan moral pegawai. KPK saat ini lembaga hukum paling ditakuti di Indonesia, dengan jumlah pegawai yang ableh kecilnya, yang tersebar kemana-mana karena gedung yang juga gak bisa dibilang sebesar dan semegah Mahkamah Agung atau MK.

Bukankah KPK adalah lembaga yang kinerjanya paling mantap selama pemerintahan SBY? Bukankah kinerja KPK selalu terukur dan terbukti benar di pengadilan? Kerja DPR mana? UU ITE? UU Pornografi? UU Pemilu? Mana hak angket, hak tanya, atau hak DPR apapun yang berhasil digunakan untuk menuntut pemerintah pada masa ini? Kenaikan BBM, impor beras, mana yang berhasil diinvestigasi oleh DPR? Nihil. DPR cuma jadi lembaga cap aja. Tapi mereka justru yang ingin bangun gedung baru.

Kalau saja DPR punya website yang lebih informatif dari yang ada sekarang. Milyaran untuk bikin website, tapi informasi yang bisa didapatkan pemilih hampir nol. Kalau saja gw bisa ngeliat apa2 aja yang mereka voting, kalo di amerika nay and yay recordsnya, maka mungkin rakyat akan tahu siapa yang paling tidak harus tidak dipilih lagi di Senayan. Kalau saja.

Dan kalau saja itu bertambah lagi, dengan kalau saja orang Indonesia punya hobi berinternet dan mencari informasi. Juga menuntut transparansi.

Kalau saja. :(

 
 

Siapa Pemerintah?

siapa-pemerintah2

Siapa sebenarnya pemerintah?

Orang yang senang memerintah? Sekumpulan orang yang senang pemerintah? Sebagian rakyat yang terpilih oleh rakyat untuk memerintah? Atau ia adalah sebuah contoh peninggalan masa lalu yang butuh diubah?

Sebuah perilaku sosial pada hakekatnya bermula dari pemaknaan. Pemaknaan kita akan apa yang kita lihat di sekeliling, baik itu kesulitan maupun kemudahan, memancing kita untuk melakukan sesuatu. Menandakan tempat di pikiran kita tentang apa yang buruk dan apa yang baik.

Contoh yang paling baik adalah, nama kita sendiri.

Ingatkah anda saat orangtua menyebutkan nama anda pertama kali? Mencari nama, menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari bahkan berbulan-bulan sebelum kelahiran kita hanya untuk memberikan suatu penanda. Sebuah merk. Sesuatu yang akan membantu kita membuat orang mengenali diri kita dan membedakan pribadi seseorang dari banyak lainnya yang tentu juga berniatan sama.

Ini bukan sekadar tradisi.

Semua dimulai dari nama. Yang adalah sebuah, kalau tidak lebih, dari susunan huruf yang membentuk kata. Anda tentu menilai seseorang bukan hanya dari nama. “Apa arti sebuah nama”, kata Juliet dalam haturan kata Shakespeare di Romeo & Juliet. Mawar tetap akan wangi dan berduri walau namanya diganti dengan Melati, misalnya. Namun justru setelah anda mengenal mawar, maka anda baru mengatakan ke orang-orang, atau merayu lain jenis dengan ucapan gombal yang mengumpakan manusia seperti dan seindah mawar.

Nama menciptakan pencitraan, dan begitupun sebaliknya.

Dan kembali lagi ke kata yang menjadi judul dari artikel ini. Siapa Pemerintah? Pernahkah anda merasa bahagia karena “diperintah”? Pernahkah anda senang memiliki kakak yang “tukang perintah” atau teman yang “senang memerintah”? Saya masih ingat, saat KDRI dulu mengkampanyekan perubahan kebiasaan pemanggilan dan penggunaan kata “pemerintah” mejnadi pembina. Semua demi pencitraan, dan kalau mau lebih berat sedikit, filosofi yang lebih baik.

Saya masih bertanya, dan terus bertanya. Darimana kata pemerintah ini berasal? Dari jaman Belandakah, karena kita saat itu adalah bangsa yang perlu dibuat rendah moralnya, sehingga diciptakan kata yang begitu menjauhkan derajat rakyat dan pemimpinnya? Atau dari jaman Orde baru? Karena pemerintahannya yang sangat hirarkis dari atas ke bawah, dengan gaya feodal dan kerajaan jaman dulu? Yang pasti, menurut saya ini perlu diubah. Paling tidak, media harus lebih spesifik dalam bertanya ke subjek berita, bagian mana dari tampuk kepemimpinan yang ia sebut dengan “pemerintah”?

Karena melalui pemaknaan, kita bisa mencintai atau saling membenci, apalagi kalau “mereka” bernama buruk, dengan kelakuan buruk pula.

 
 

Friend Connect

 

Latest Shout!

  • achmad sholeh: mampir kesini mas .-= achmad sholeh´s last blog ..Kesaktian Pancasila Dan Bela Negara =-.
  • Budi Ridwin: Tulisan yang bagus!! Saya sangat amat Setuju dengan tulisan diatas. boleh saya sebarkan juga lewat blog...
  • eorllandso: exempt tar ice geological agricultural consensus africa [url=http://www.archive.org]va riations cost...
  • pututik: i still don’t understand how to used mycontextual regarding Amazon affiliates .-= pututik´s last...
  • Pembuat Theme: Wah…..gawat neh….kebeasan berpendapat kita hilang
 
 

Afiliasi

 

Meta

Display Pagerank

Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory Pageboss.com

hits counter

 
 
 
 
Ignaty Nikulin