
Dalam dunia jurnalistik, kesalahan adalah satu bagian yang memang wajar dan gak bakal pernah hilang. Tapi saat suatu berita salah memberikan headlines yang akibatnya mengubah sejarah suatu negara, maka media tersebut telah membawanya ke level baru. Level Super Gokil. 

Link Asli : Sejak Pengakuan 2005, RI-Belanda Semakin Dewasa
Haduh detik….detik…….

Update : Ada komentar konstruktif yang diberikan oleh mas (atau mbak? :p) Yoyo, katanya yang dimaksudkan “2005″ disini adalah suatu persetujuan bernama Comprehensive Partnership Agreement (Persetujuan Kemitraan Menyeluruh) yang memang ditandatangani tahun 2005.
Well, terlepas dari tahu atau tidaknya saya akan eksistensi persetujuan tersebut, dalam artikel asli berita Detik sama sekali tidak disebutkan yang dimaksud “Pengakuan” adalah persetujuan tersebut. Justru pada alinea yang harusnya memberikan garis besar suatu artikel disebutkan tentang “pengakuan proklamasi Kemerdekaan RI 17/8/1945″. Berikut kutipan artikel aslinya :
Wassenaar – Hubungan bilateral Indonesia-Belanda selalu naik turun. Namun sejak Belanda mengakui proklamasi Kemerdekaan RI 17/8/1945 hubungan kedua pihak telah mencapai tingkat dewasa.
Hal itu disampaikan Dubes RI Den Haag JE Habibie pada resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-63 yang digelar di Wisma Duta, Kamis malam (4/9/2008) atau Jumat pagi WIB.
Pertama kali dalam sejarah kesempatan khusus itu dihadiri Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende dan menteri utama kabinet, antara lain Menlu Maxime Jacques Marcel Verhagen, Menteri Yustisi Ernst Maurits Henricus Hirsch Ballin, Menteri Pertahanan Eimert van Middelkoop, dan para pejabat tinggi Kemlu.
Selain itu juga terlihat Ketua Komisi I Parlemen Hans van Balen, Ketua Komisi Hubungan Luarnegeri Henk Jan Ormel dan para mantan Dubes Belanda yang pernah bertugas di Jakarta, yakni J.H.R.D. van Roijen, Schelto Baron van Heemstra, R.J. Trffers dan Nikolaos van Dam.
“Hubungan Indonesia-Belanda telah berlangsung sejak lama, naik dan turun. Namun sejak pemerintah Belanda menerima secara politik dan moral proklamasi kemerdekaan Indonesia 17/8/1945, hubungan itu telah mencapai tingkat dewasa,” ujar Habibie, akrab disapa Fanny.
Menurut Fanny, Indonesia-Belanda telah mencapai kemitraan murni sejak kedua pihak menyelesaikan Comprehensive Partnership Agreement (Persetujuan Kemitraan Menyeluruh). Persetujuan tersebut telah diimplementasikan dan teresonasi dalam bidang politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan, imigrasi, transportasi dan pertahanan, yang keseluruhannya telah berkembang baik.
“Resepsi diplomatik ini tidak hanya sebuah saksi dari hubungan produktif yang menguntungkan kedua negara, tetapi juga melahirkan karakter unik dibandingkan dengan sebelumnya,” demikian Fanny, merujuk pada kehadiran Perdana Menteri, para menteri utama kabinet, petinggi parlemen Belanda dan delegasi promosi dari Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
Dapat dengan jelas terlihat, selain di judul artikel tidak terdapat sama sekali tulisan tahun “2005″ maupun penjelasan apa itu pengakuan 2005. Dalam pandangan orang yang awam sekali tentang sejarah hubungan kedua negara, akan diambil kesimpulan kalau Detik salah memberikan judul dan “pengakuan” yang dimaksudkan disini adalah pengakuan tahun 1945, sesuai dengan yang disebutkan di alinea pertama artikel. Jadi, Detik masih ngaco.
Makasih banget buat mas Yoyo atas komentarnya, membantu banget untuk menjelaskan kesalahan ini lebih lanjut.