Posts Tagged ‘ politik ’

Kesimpulan, Pemilu 2009 & Demokrasi

Menjadi sebuah pertanyaan yang cukup mendasar, apakah reformasi yang telah kita jalani selama kurang lebih 10 tahun terakhir adalah sesuatu yang telah gagal. Reformasi, yang tadinya dibangga-banggakan sebagai jalan terang dan pintu masuk kepada era baru pemerintahan yang mengutamakan rakyat dan mau mendengar segala keluhannya melalui lonceng pagi parlemen ternyata, menurut banyak orang adalah sistem yang gagal. Demokrasi itu mahal, Demokrasi itu bodoh, Demokrasi itu terlalu bebas, terlalu liar! Kata orang. Kembali menjadi satu pertanyaan, benarkah tuduhan akan keberhasilan Demokrasi di Indonesia ini benar adanya? Tergantung dari sudut pandang dalam memandang permasalahan, jawaban dari pertanyaan diatas bisa benar atau salah. Tapi apa sebenarnya dasar dari kesimpulan bahwa reformasi yang menghasilkan Demokrasi dan membebaskan rakyat dari rezim otoriter Soeharto telah dan hanya menghasilkan kegagalan?

Lanjut →

Pilih Siapa 2009?

Udah ada pilihan? Kalo gw antara dua. Golput sama dateng cuma buat nyoblos idung semua calon aja. :D

Hukuman Mati Untuk Semua(?)

Sumiarsih dan Sugeng. Pembunuh, penjahat, bajingan, sampah masyarakat. Mereka tidak pantas hidup di bumi ini. Karena itu, pengadilan memutuskan hukuman mati untuk mereka. Hukuman mati tembak, gampang kok. Cukup ambil senapan, bentuk tim penembak, bawa tahanannya, lalu tembak di dada. Gampang kan? Tapi apa penyelesaian masalahnya memang segampang itu?

Lanjut →

Pengumuman lagi soal indonesiaSatu =P

Mbak-mbak, tante-tante (bukan yg girang), mas-mas, om-om (bukan yg girang juga), kalo mo tahu perkembangan indonesiaSatu, sekarang udah ada blognya. Jadi semua perkembangan bisa diliat disitu.

Blognya di :

http://blog.indonesiasatu.info/ 

Mereka Yang Bersalah

Menandakan kembalinya gw kedunia blog : Gw sekarang mau ngepost sebuah tulisan yg gw tulis waktu gw di tanjung enim dan sama sekali gak bisa internetan :( Artikelnya soal Soeharto dan….agak2 berat, kata temen gw, gw sok tua….hahahaha…..oh iya artikel ini gw buat waktu si Diktator belom mati….

Mereka Yang Bersalah

Sakitnya Mantan Presiden Soeharto pada awal tahun 2008 seperti mengejutkan semua pihak. Mendadak, semua orang merasa simpati kepada mantan presiden yang digulingkan oleh gerakan mahasiswa pada Mei 1998 itu. Mendadak juga, kontroversi akan proses hukum Soeharto kembali muncul ke permukaan, hampir-hampir seperti isu selebriti, yang cepat naik ke permukaan, cepat juga tenggelamnya.

Peristiwa sakitnya mantan Presiden Soeharto sebenarnya bukan hal baru untuk dibicarakan. Terhitung sejak lengsernya ia dari kursi kepresidenan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sudah sepuluh kali ia keluar masuk rumah sakit. Begitu juga dengan proses hukumnya. Bisa dibilang, proses hukum Soeharto hampir sama dengan sakitnya ia saaat ini. Mati segan, hidup pun tak mau. Pernyataan ini bisa dihubungkan dengan ditutupnya proses hukum pidana Pak Harto oleh Jaksa Agung Abdurrahman Saleh melalui Surat Ketetapan Penyelesaian Pidana (SKPP) yang diterbitkan atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara proses hukum Perdata yang masih berjalan terus dituntut untuk dihentikan oleh beberapa pihak yang merasa simpati kepada sakitnya Pak Harto. Hal ini memunculkan pertanyaan, adakah memang pihak-pihak yang menuntut penghentian proses tuntutan hukum perdata pada Mantan Presiden Soeharto dan Yayasan Supersemar memang bersimpati, atau merasa bersalah?

Dilihat dari sudut pandang sejarah, 32 tahun pemerintahan Pak Harto tidak lepas dari beberapa figur yang terus mengikuti dirinya, kalau tidak mau disebut penjilat. Mereka terus mendukung Pak Harto sebagai presiden, selalu mengiyakan kebijakannya, bahkan hampir tidak pernah mengkritik apapun yang keluar dari mulut Pak Harto. Mereka yang kita ingat dalam tanda kutip “membantu” Pak Harto mempertahankan kekuasaannya di negeri berpenduduk 200 juta orang bernama Indonesia, namun lalu meninggalkan Pak Harto ditengah kekacauan pada penghujung pemerintahannya. Mereka dengan licin, sama licinnya dengan saat mereka mendapat kekuasaan karena menjilat kaki Pak Harto, meminta Pak Harto untuk mundur sebagai Presiden sesuai dengan tuntutan rakyat. Mereka seperti lupa kalau mereka jugalah yang meminta Pak Harto untuk kembali memimpin Republik ini dengan usungan partai Golongan Karya (Golkar) atas “amanat rakyat”. Bukan salah Pak Harto kalau ia merasa dikhianati. Dikhianati oleh orang-oarng yang berjanji setia kepadanya.

Lalu sekarang, saat Pak Harto jatuh sakit, kita melihat berbagai nama dan tokoh yang datang menjenguk Pak Harto. Mereka lalu keluar dengan mengajak rakyat memaafkan Mantan Presiden yang dikenal otoriter itu karena jasanya yang banyak. Ia dinilai sudah memberikan banyak dalam 32 tahun pemerintahannya. Lucunya, tokoh-tokoh yang muncul memberi komentar kebanyakan adalah tokoh yang memiliki kekuasaan pada masa pemerintahan Soeharto. Mereka yang dulu menjabat sebagai menteri, gubernur, bupati, dan pebisnis yang diuntungkan atas kekuasaannya. Mereka yang dalam tanda kutip “lari” saat Soeharto digulingkan seperti Binatang yang dianggap tidak pantas ada di bumi ini, bahkan ikut menguliti bulu-bulunya dengan meminta Pak Harto mundur dari jabatan. Harus kita ingat, banyak kesalahan Pak Harto tidak bisa dilakukan ia sendirian. Kesalahannya kebanyakan terorganisir, melibatkan bawahan-bawahannya yang bersedia melakukan apapun asal diberi ganjaran kursi kekuasaan. Soeharto layaknya Firaun, yang dijalankan apapun perintahnya dan dipuja-puja seperti tuhan.

Pertanyannya sekarang bukan lagi mengenai siapa yang salah. Juga terlambat untuk memaksa proses hukum Soeharto dihentikan atau diteruskan. Pertanyannya adalah akankah Soeharto, yang dalam 32 tahun pemerintahannya banyak menciptakan penderitaan dan masalah jangka panjang, namun juga memiliki banyak jasa memajukan Indonesia dianggap yang paling bersalah dan yang paling pantas untuk menghuni sel penjara? Jawabannya penulis serahkan pada pembaca. Yang pasti, meminta rakyat untuk memaafkan seorang Soeharto adalah sama dengan meminta seorang ibu yang anaknya sudah dimutilasi dan dibunuh dengan kejam untuk memaafkan pelakunya. Juga bukan suatu bentuk pembesar-besaran masalah kalau penulis menganggap orang yang meminta rakyat memaafkan Soeharto yang penulis umpamakan sama dengan pelaku mutilasi atas alasan jasa adalah sama saja dengan pelaku mutilasi itu sendiri, karena mereka telah memutilasi sejarah akan penderitaan rakyat dan memperkecil segala masalah, tanpa mau melihat segala sesuatunya dengan jelas. Karena pembangunan dan angka statistik bukanlah sesuatu yang kekal, sudah dibuktikan dengan bencana Tsunami yang membumi-ratakan Aceh dan seluruh bangunannya. Tapi Jeritan hati seorang ibu, nyawa yang hilang, hak yang tidak ditunaikan, mereka kekal dalam catatan tuhan dan sejarah.

Gagah P. Arifianto

Pelajar HomeSchooling & Blogger 



Hosted in Dracoola Multimedia