Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Nama Pasangan Pres-Cawapres Yang Rada-Rada Bego

Hanya berselang beberapa jam setelah Boediono dipilih menjadi Calon Wakil Presiden yang berpasangan dengan SBY dengan deklarasi yang megah, dihadiri oleh pemimpin-pemimpin parpol, figur-figur politik beserta massa yang tidak lebih daripada pion politis, Megawati juga ikut mendeklarasikan kesertaannya dalam Pilpres, berpasangan dengan, you guessed it, Prabowo.

Dengan deklarasi yang tidak semegah dan semewah SBY-Boed, atau entah apa nanti singkatan kedua pasangan Presiden incumbent & Gubernur BI itu, deklarasi Megawati-Prabowo cukup menarik perhatian gw. Kenapa, karena kita semua yang mengikuti perkembangan pemilu kali ini tentu akrab dengan Prabowo yang dari awal terus menekankan bahwa ia akan tetap mencalonkan diri sebagai Calon Presiden.

Ternyata akhirnya ia mundur dan memutuskan berpasangan, atau lebih tepatnya, mau turun derajat dan menjadi pasangan seorang Megawati (no offense untuk simpatisan PDI), mungkin masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk bisa dijelaskan, tapi masalah yang lebih besar (atau lebih kecil, tergatung sudut pandang anda :) ) adalah……gw bertanya-tanya.

Gw bertanya-tanya…..kenapa setiap Cawapres di pemilu kali ini harus KORBAN NAMA?

82625

Pertama….Wiranto namanya mendadak dirubah jadi Win, cuma agar JK punya catchphrase yang garing, JK-Win. Beberapa blogger mengkritik keputusan ini, karena justru membuat orang bertanya-tanya dan merasa JK berpasangan bukan dengan Wiranto tapi dengan either Winarto, Winaryo atau Winanto.

Lalu sekarang, Prabowo berpasangan dengan Megawati. Barusan aja, di Metro TV (yep, sumber yg sama dengan gambar diatas), Mega pun mengambil langkah yang sama dengan JK. Kali ini, Mega dan Prabowo disingkat jadi…..Mega-Pro.

Pelanggaran. Hak. Cipta.

megaproSelain motornya yang gak warna merah, “Motornya Lelaki” juga sepertinya akan membuat Megawati Meletup Kemarahannya

Ya, itu aja sih. Kira-kira ada yang mau kasih saran Catchphrase yang gak rada2 bego buat SBY-Boediono? Yang jelas jangan ada pelanggaran hak cipta, jangan membuat orang berasumsi Boediono adalah orang dari ras lain, dan yang sangat harus & pasti, jangan membuat kesan bahwa kedua pasangan SBY-Boediono adalah Mobilnya Perempuan.

 
 

Halangan Terbesar SBY – Boediono : Persepsi

boediono

Dan akhirnya pilihan itu pun jatuh pada Boediono. Sang gubernur BI, yang juga mantan Menko-Ekonomi ini, berhasil naik ke permukaan, mengalahkan banyak tokoh politik & akademisi, yang sebelumnya dikaitkan atau diprediksikan menjadi partner SBY, sebagai Calon Wakil Presiden pengganti Jusuf Kalla, yang telah menyebrang dan menjadi calon Presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan pemimpin Partai Hanura dan mantan teman seprofesi SBY, Wiranto.

Menarik sebenarnya memperhatikan atau merenungkan mengapa SBY memilih Boediono, seorang ekonom yang mungkin memiliki electability factor hampir nol di negeri ini. Ok, mungkin tidak benar-benar nol besar, pasti ada yang menyukai apa yang Boediono lakukan saat ia menjabat Menko Perekonomian atau Gubernur BI. Kalangan Profesional dan the well-informed mungkin? Tapi apa kedua kalangan itu, kalangan dengan persepsi politik & ekonomi yang telah terbangun dengan benar, dapat menjadi representasi terbesar rakyat dengan hak pilih di negeri ini?

Rasa-rasanya tidak. Tapi fair rasanya  menyebut mereka sebagai the driving influence. Mereka punya kemampuan untuk menyetir opini, mendebat dan menciptakan counter-argument. Orang-orang yang sadar internet, punya blog & memiliki pengikutnya sendiri, dapat menciptakan kekuatan lebih untuk Yudhoyono. Fakta bahwa ditangan Boediono rupiah terus membaik dan krisis global pun sedikit kita rasakan disini (walau mungkin ini lebih bersifat kebetulan), ditambah dengan beberapa klaim bahwa Boediono dalam tingkat hubungan pribadi adalah seorang yang rendah hati dan ramah, dapat menciptakan publikasi positif untuk keduanya. Ditambah lagi, kali ini kedua pasangan calon pemimpin ini akan berkarakter hampir sama, tidak lagi ada faktor eksplosif dan unpredictability yang dulu dipunyai Jusuf Kalla.

Lonjakan Pencarian nama Boediono di GoogleLonjakan pencarian “Boediono” melawan “Wiranto” di Google.

Itu yang positif. Bagaimana dengan yang negatif? Apakah ada alasan mengatakan Boediono kurang populer di kalangan menengah ke bawah? Jelas. Sudah sebuah fakta umum dan beberapa kali dinyatakan di media bahwa Boediono ekonom yang pintar, tapi kurang pintar dalam menangani ekonomi nyata di pasar tradisional atau sektor riil.

Ditambah lagi Boediono, seperti yang telah disebut sebelumnya, kurang ber-passion dan tidak eksplosif, bahkan hampir tanpa karakter dalam menangani media. Publik di Indonesia yang mayoritas menyebut dirinya wong cilik adalah masyarakat yang menilai seorang tokoh publik atau calon pemimpin lewat caranya berargumentasi atau pernyataan-pernyataannya di media. Boediono? Ia jelas bukan tokoh politik yang penuh retorika. Ia profesional, sehingga pernyataannya selalu tekhnis dan tentang pekerjaannya.

Dengan sedikit bantuan pakar Humas yang baik, musuh politik Indonesia bisa menyerang Boediono sebagai seorang yang tidak terlalu peduli dengan wong cilik. Seorang elitist.

Boediono sebagai Wapres memang sesuatu yang sulit untuk kita bayangkan. Kita selama ini telah dibiasakan melihat figur Partai Politik sebagai pemimpin. Tapi ini adalah satu langkah politik yang positif sebagai pembelajaran Demokrasi di Indonesia. Kita memang membutuhkan pemimpin dari kalangan profesional, yang walau selalu bermasalah dengan persepsi masyarakat, namun bekerja untuk bekerja.

Walau posisi cawapres  pada intinya hanya bersiap kalau-kalau Presiden mendadak tidak dapat lagi menjalani tugasnya sebagai Presiden, di Indonesia siapa yang diatas maka dia bagian dari Ketuhanan. Dengan kultur politik kita yang hampir seperti kultur feodal kerajaan Jawa, Boediono adalah pangeran baru. Apa 2014 ia bisa menjadi Presiden penerus SBY? Selesaikan dulu tantangan pertama sebagai Cawapres : persepsi publik.

 
 

SBY + Prabowo = Hillary

Sebenernya gw mau ngepost tulisan tentang Kedatangan Hillary pagi ini…tapi berhubung tulisannya masi setengahmateng, kita sedikit intermezzo aja dulu ya :)

Barusan aja liat halaman Detik.com, yang dengan tepat menggambarkan persaingan dan panasnya pemilu 2009. Gak tahu lucu apa gak menurut temen2 pembaca, tp gw tadi sempet ketawa juga ngeliatin ironiknya kemunculan penempatan kedua iklan ini yang bisa barengan :

sbyprabowo

Ada tiga hal yang patut diperhatikan dalam halaman ini :

1. SBY Kalah posisi iklan ama Prabowo – Selain dua iklan ini,sebelumnya muncul iklan flash pop-up iklan Gerindra yang menutup tampilan iklan SBY. Apa ini berarti dana periklanan Gerindra lebih besar daripada Demokrat?

2. Pose SBY – Prabowo sama-sama ngangkat tangan – Ada apa ya dengan ngangkat tangan :mrgreen:

3.  Jadi apa maksudnya pasang Hillary di judul artikel? – Gak ada. Karena ini post tentang detik, tahu sendiri, judulnya gaya Detik juga. :)

 
 

Friend Connect

 

Latest Shout!

  • achmad sholeh: mampir kesini mas .-= achmad sholeh´s last blog ..Kesaktian Pancasila Dan Bela Negara =-.
  • Budi Ridwin: Tulisan yang bagus!! Saya sangat amat Setuju dengan tulisan diatas. boleh saya sebarkan juga lewat blog...
  • eorllandso: exempt tar ice geological agricultural consensus africa [url=http://www.archive.org]va riations cost...
  • pututik: i still don’t understand how to used mycontextual regarding Amazon affiliates .-= pututik´s last...
  • Pembuat Theme: Wah…..gawat neh….kebeasan berpendapat kita hilang
 
 

Afiliasi

 

Meta

Display Pagerank

Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory Pageboss.com

hits counter

 
 
 
 
Ignaty Nikulin