Hanya berselang beberapa jam setelah Boediono dipilih menjadi Calon Wakil Presiden yang berpasangan dengan SBY dengan deklarasi yang megah, dihadiri oleh pemimpin-pemimpin parpol, figur-figur politik beserta massa yang tidak lebih daripada pion politis, Megawati juga ikut mendeklarasikan kesertaannya dalam Pilpres, berpasangan dengan, you guessed it, Prabowo.
Dengan deklarasi yang tidak semegah dan semewah SBY-Boed, atau entah apa nanti singkatan kedua pasangan Presiden incumbent & Gubernur BI itu, deklarasi Megawati-Prabowo cukup menarik perhatian gw. Kenapa, karena kita semua yang mengikuti perkembangan pemilu kali ini tentu akrab dengan Prabowo yang dari awal terus menekankan bahwa ia akan tetap mencalonkan diri sebagai Calon Presiden.
Ternyata akhirnya ia mundur dan memutuskan berpasangan, atau lebih tepatnya, mau turun derajat dan menjadi pasangan seorang Megawati (no offense untuk simpatisan PDI), mungkin masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk bisa dijelaskan, tapi masalah yang lebih besar (atau lebih kecil, tergatung sudut pandang anda
) adalah……gw bertanya-tanya.
Gw bertanya-tanya…..kenapa setiap Cawapres di pemilu kali ini harus KORBAN NAMA?
Pertama….Wiranto namanya mendadak dirubah jadi Win, cuma agar JK punya catchphrase yang garing, JK-Win. Beberapa blogger mengkritik keputusan ini, karena justru membuat orang bertanya-tanya dan merasa JK berpasangan bukan dengan Wiranto tapi dengan either Winarto, Winaryo atau Winanto.
Lalu sekarang, Prabowo berpasangan dengan Megawati. Barusan aja, di Metro TV (yep, sumber yg sama dengan gambar diatas), Mega pun mengambil langkah yang sama dengan JK. Kali ini, Mega dan Prabowo disingkat jadi…..Mega-Pro.
Pelanggaran. Hak. Cipta.
Selain motornya yang gak warna merah, “Motornya Lelaki” juga sepertinya akan membuat Megawati Meletup Kemarahannya
Ya, itu aja sih. Kira-kira ada yang mau kasih saran Catchphrase yang gak rada2 bego buat SBY-Boediono? Yang jelas jangan ada pelanggaran hak cipta, jangan membuat orang berasumsi Boediono adalah orang dari ras lain, dan yang sangat harus & pasti, jangan membuat kesan bahwa kedua pasangan SBY-Boediono adalah Mobilnya Perempuan.














