Posts Tagged ‘ tentang ’

Welcome To April, Sir!

Uda cukup basi belom posting “Welcome To April” pada tanggal 14? Hehehe….yup…as predicted before, bulan ini bisa dibilang bulan landmark dan milestone buat semua siswa-siswi (halah, kayak Galih & Ratna aja :)) ) SMU di seluruh Indonesia. Eh btw yang bener SMA apa SMU sih?

Anyway, maksud dari postingan ini bisa dibilang basi  setengah mati dan bisa masuk ke kategori postingan :roycape: , karena gw cuma mo bilang, sori! Gw gak isa blogwalking dan ikutan ngejunk kayak dahulu kala :p . Sumpah, too much thing to think and attend, too much stuff circling in my mind…ternyata siswa home-schooling mang jauh lebih repotz daripada sekulah biasa…semuanya ngurus sendiri :( .

Yang jelas, minggu ini ada sesuatu yg lagi ditunggu…kalo udah dateng pasti deh langsung ngesot eh ngepost….ditunggu ajelah

NB : Nape gw jadi seneng pake emoticon cape deh yak…wakakakakak =))

Masih Tentang Hack Situs Depkominfo dan UU ITE

Masih tentang kelanjutan peristiwa dihacknya situs Depkominfo kemarin malam, Detikinet baru aja memberitakan konfirmasi dari Roy Suryo tentang tampangnya yang nangkring bugil di situs Depkominfo.

roy_suryo_on_hacking_situs_depkominfo.jpg

Siapa ‘mereka’ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

“Saya gak mau terpancing, hacker dan blogger gak pernah saya anggap. Paling saya akan ada di belakang Kominfo, tunggu saja action saya,” lanjutnya, tanpa menyebut langkah yang bakal diambilnya lebih lanjut.

“Banyak sekali milis (mailing list) dan blog yang menyuarakan tidak setuju, dan (reaksi) itu terjadi,” tukasnya.

Setelah membaca berita diatas, gw terdiam. Gw bener-bener emosi dan rasanya gw pengen terbang ke tempat Roy Suryo berada dan mempertanyakan argumen tololnya. Tapi yah, saatnya kita dewasa. Mari kita review komentarnya. ;;)

Tentang ketidaksetujuan blogger dan hacker (ambiguitas yang sangat jelas disini, membandingkan blogger dengan hacker) akan UU ITE, rasanya sangaat wajar. Karena Indonesia adalah negara demokrasi. Dan demokrasi menyerahkan segala pilihan hidup kepada rakyat dari suatu negara, dan menjadikan hidup sebagai pilihan, bukan paksaan atau larangan. Disini, yang saya permasalahkan adalah bukan diblokirnya situs porno. Saya masih bisa hidup tanpa itu. Dan saya yakin hampir semua orang begitu. Yang jadi masalah adalah saat negara mulai memilih hiburan apa yang cocok atau tidak cocok untuk rakyatnya. Disini sendi-sendi demokrasi mulai terluka, parah. Karena yang saya tahu, hanya pemerintah komunis dan pemerintah negara Islam yang aktif menyeleksi hiburan untuk warganya, apalagi di internet. Sebagai contoh, China, Cuba, Burma, Arab Saudi, Iran, dan Mesir adalah beberapa negara yang menyensor konten internet di negaranya. Tentunya ini menjadi suatu pertanyaan, apakah ideologi negara kita sudah berubah menjadi Komunisme atau Agamisme?

Selanjutnya, argumen bahwa internet adalah ruang publik menjadi lelucon yang sangat garing untuk dibicarakan. Mengapa? Karena internet bukanlah ruang terbuka yang bisa dilihat tanpa menggunakan media perantara. Ia harus melewati jendela kecil bernama monitor, sebagai satu bagian dari komputer. Dan saat komputer berada di kamar-kamar pribadi individu, maka ia tidak lagi menjadi ruang publik. Ia adalah ruang privat. Sementara internet yang disediakan di warnet, baru bisa diklasifikasikan sebagai ruang publik. Dan dengan memblokir salah satu jenis konten di internet kepada semua penggunanya, adalah sama saja pemerintah melanggar ruang privat warganya. Kecuali, Undang-Undang yang berlaku membedakan warnet dan komputer pribadi. Ini tentu lebih beradab dan lebih berasaskan demokrasi.

Ketiga, kembali topik lama yang sebenarnya saya sudah capek membahasnya. Komter Roy Suryo yang sangat ambigu, karena menyamaratakan Blogger dengan Hacker. Jelas sangat berbeda. Dan apa yang dikeluarkan dari mulut Roy Suryo di media massa hanya akan membodohi orang-orang yang tidak mengerti apa itu blogging dan siapa itu blogger. Tentunya kita tidak mau besok-besok rumah kita dibakar FPI karena kita blogger kan? Oke, mari kita bandingkan blogger dengan hacker.

Hacker, dalam definisi terdasarnya, adalah seseorang yang menerobos masuk ke dalam jaringan atau suatu sistem elektronik. Konotasinya bisa negatif atau positif. Ada yang disebut white hacker, yang berarti ia menjadi hacker untuk melindungi jaringan atau sistem elektronik yang lemah pertahanannya dari black hacker. Black hacker, adalah berlawanan dari white hacker. Sementara definisi lainnya dari hacker adalah seorang computer freak, seperti sayah. :p

Sementara Blogger, jelas sangat berbeda dengan hacker. Blogger adalah seseorang yang melakukan aktivitas yang disebut blogging, yang berarti menaruh atau memampang tulisan di Internet. Isi tulisannya, terserah si blogger. Dan ini, kembali lagi adalah salah satu esens dari demokrasi, yang menghormati setiap pilihan individu. Jadi sebuah pertanyaan apabila karena satu blog menampilkan tulisan negatif, lalu semua blog menjadi negatif? Kok seperti orde baru saja. Jadi sebenarnya Roy Suryo yang bilang blogger itu negatif itu sebenarnya berkomentar atas dasar apa?

Jangan tanya saya, tanya dia.

Tentang Jalan Rusak

Sebelum baca ini, ada dua hal yang musti gw akuin :

1. Gw belom pernah naek busway (karena gw norak)

2. Jalan rusak disini akan gw asumsikan dari kerusakan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang dalam setahun gw lewatin 2 kali waktu mudik dan liburan (bokap gw kerja di PTBA).

Pernah kan ngelewatin jalan rusak? Naek motor? Atau naek mobil? Merasa terganggu gak? Menurut gw sih, pastinya! Ya eyalah…coba aja bayangin lo naek motor dengan kecepatan setengah ngebut (maksudnya kira2 80km/jam :D ), trus tiba2 di depan lo ada lobang becek menganga selebar 1 meter. Apa yang terjadi?

  • Lu ngerem mendadak, sampe badan lo ngegelesor ke depan jok motor
  • Lu terus aja ngantem lobang itu, hasilnya jatoh dari motor, benjol2 en’ masuk rumah sakit
  • Berusaha manuver gaya MotoGP, lengkap dengan tepuk tangan dan sorakan dari pedagang2 asongan dan pejalan kaki

Sekeren apapun keliatannya, menghadapi jalan berlobang tentu aja nganggu. Gak semengganggu Radja atau Kangen Band sih, tapi ya yang pasti nganggu. Nah pertanyannya, kenapa jalan bisa rusak? Lalu kalo emang udah rusak, siapa yang bertanggung jawab membetulkan?

Jawaban dari pertanyaan diatas (2 pertanyaan tepatnya :P ) secara resmi harusnya bisa ditanyakan langsung media ke pejabat yang bersangkutan. Tapi sebagai orang awam dan orang kecil (khas komentar rakyat Indonesia kalo ditanya wartawan), gw akan menjawab dengan lantang, Pemerintah! Ya eyalah…bukannya pemerintah yang paling salah? Kan pemerintah yang bikin jalannya gak sesuai standar alias udah dikorupsi duit buat bangun jalannya, sampe2 bikin jalan yang gradenya dibawah standar. Yeap! Hampir benar! Tapi sayangnya, jawaban yang sesuai bukanlah itu.

Jawaban yang benar, adalah ada kesalahan sistemik pada pengelolaan jalan di republik ini. Walau gw bukan expert dan cuma orang kecil ( :lol: ), tapi gw tahu dan pernah nngelewatin jalan lintas sumatera, baik lintas timur atau selatan (CMIIW, gw gak tahu yg satunya lagi itu selatan atau utara), dan yang gw lihat paling merusak jalan adalah bukan lagi kualitas aspal. Kalo dulu mungkin kita uda akrab dengan  aspal yang saking banyak batu cornya kita gak bisa roller-skatean di jalan itu. Kalo nekat, ya rasain aja sendiri pala lo bengkak. Tapi sekarang, rata-rata jalan di Lintas Timur sudah menggunakan aspal Hotmix yang (kalo baru diaspal) muluuuus banget jalannya :) . Yap! Yang paling merusak justru kendaraan yang lewat diatasnya!!! Gw sering banget liat truk-truk kelas berat yang bahkan dengan cuma melihat sebelah mata (mata gw yg satu, lagi tiduran) kita bisa tahu beratnya sudah melebihi 3 ton berat maksimal yang bisa dihandle oleh jalan. Contoh :

Antrean Truk di Merak

(Antrean Truk Di Merak; Foto diambil dari http://imnbanten.wordpress.com/ menunggu permisi)

Bisa dilihat, foto diatas sangat gak menunjukan antrean truk yang berprikemanusiaan (baca : legal). Bayangin aja jadi jalan yang harus menghandle ribuan dari truk semacam ini setiap harinya. Apa gak bolong-bolong itu jalanan.

Lalu sebenernya apa yang terjadi? Apa ini cuma ‘kenormalan’ biasa? (tipe kenormalan yang ‘hanya di Indonesia’) Atau ada sebuah praktek yang salah pada manajemen jalan di negeri ini? Jawabannya, dua-duanya benar! :lol: Ya eyalah, saking udah terbiasanya kita dengan bikin KTP bayar 100rb, SIM 300rb, dll, kita jadi gak terlalu sensitif lagi dengan praktek ilegal di depan mata kita. Jadi mo dibilang normal ya normal-normal aja kok. Tapi jawaban kedua lebih pantas menjadi sebuah jawaban karena kita saat ini sedang dalam proses reformasi, restrukturisasi, dan (favorit gw dan temen gw, SBY :D ) revitalisasi. Terjadi di depan mata gw sendiri waktu mudik tahun lalu, ada antrian panjang di depan mobil gw, dan antrian didepan gw itu terdiri dari truk-truk kontainer yang panjangnya naujubileh. Gw waktu itu mikir, “wah…akhirnya tegas juga pemda sumsel”. Dan tahu gak apa yang terjadi? Gak lebih dari lima menit, antrian truk yang tadi berhenti itu jalan lagi setelah menyerahkan beberapa lembar uang yang juga gw saksikan sendiri di depan mata gw. Lalu apa ini memang denda atau korupsi? Gak tahu. Yang pasti, gak pantes aja mengeruk uang dari ketidaknyamanan rakyat.

Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 2)

7 menit kemudian, seluruh belanjaan yang seperti menggunung didepan anak itu sudah selesai dihitung. Ketiga ibu yang dari tadi diam, entah takut atau merasa bersalah sekarang sudah keluar dari toko Bang Ali dan dari sudut mata anak itu, terlihat melanjutkan diskusi mereka diluar toko.

 As requested, :)

Anak itu kini sudah keluar dari toko. Dengan langkah gontai yang sama, pandangan mata yang sama, ia berjalan lurus menuju pinggir jalanan becek itu. Dibelakangnya, ribuan orang berlalu-lalang, melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sementara didepannya terhampar kemacetan yang seakan tidak pernah habis di kota itu. Matanya yang biru, seperti dengan keras meneriakkan jati dirinya yang setengah keturunan. Ia lalu berjalan perlahan, menuju sebuah angkot yang sedang terjebak kemacetan. Ia naik, dan duduk seperti tanpa kesadaran. Pandangan matanya masih sama, kosong dan tanpa harapan.

 

Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang lurus ke arah pintu angkot yang terbuka lebar. Ia memandang aspal dan debu yang beterbangan seperti menemani perjalanan angkot tua itu. Sesekali dilihatnya diluar pengemis dan gelandangan yang duduk di pinggir jalanan berdebu. Dipikirannya terbayang apa rasanya duduk disana berjam-jam, bernafas menghirup debu dan aspal yang menyelimuti tubuh rentanya. Ia membayangkan bagaimana kalau ia mati, akankah ada yang mengkafani dan memandikannya? Atau dia hanya akan menjadi seonggok daging yang terkulai lemas di sudut kota, menunggu orang menemukan dan menjadikannya alat percobaan para calon dokter?

 

Hanya 15 menit perjalanan itu terbentang. Kini ia sudah sampai di rumahnya. Rumah yang kini kosong, diterangi cahaya matahari dari sudut jendela tinggi di dinding ruang keluarga. Disana ada sebuah lukisan, lukisan keluarga yang sekarang sudah tergantung miring tanpa ada yang membetulkan. Lukisan itu bergambar ayahnya, seorang pengusaha sukses dengan janggut dan kumisnya yang berwibawa. Lalu ibunya, dengan kecantikan yang tiada tara, digambarkan dengan rambutnya yang pirang panjang membentang. Lalu ada dirinya sendiri. Pikirannya terdiam. Ia ingat, saat lukisan itu dibuat dua tahun lalu. Ia masih 14 tahun kala itu. Ayahnya yang baru terpilih menjadi direktur sebuah BUMN, dengan senyum yang merekah pulang ke rumah memanggilnya bersama adik dan ibunya ke ruang keluarga. Ayahnya dengan bangga berdiri diatas karpet itu, didepan televisi itu. Ia dengan ceria mengumumkan telah terpilih, lalu memeluk kami bertiga. Rasanya semua ceria saat itu. “Aku rindu senyum itu” pikirnya dalam hati, memikirkan senyumnya sendiri di lukisan itu.

Sebuah Pertanyaan Tentang Kehidupan (Part 1)

Seorang anak berjalan pelan menuju pintu toko di sebuah pasar kumuh pinggiran kota. Anak bernama Muhammad itu berjalan pelan, gontai, seakan tidak ingin langkahnya terdengar orang-orang di sekitarnya. Itu percuma, karena penampilannya saja sudah menarik perhatian para pedagang dan pengunjung yang menjalankan aktivitas harian di pasar. Ia terus berjalan, pandangannya lurus kedepan, memandang sesuatu yang tidak ada di mata orang lain, tapi terlihat jelas di rona matanya. Biru, mata anak itu. Sementara bajunya yang rapi dengan kemeja berwarna putih dan celana jeans biru semakin memperlihatkan perbedaan diantara celana pendek kusut dan kaos hitam lusuh yang dipakai orang-orang di sekitarnya.

Begitu sampai di depan Toko Bang Ali yang dituju, tangannya bergerak pelan mendorong pintu masuk kaca yang menandakan bagaimana besarnya toko Bang Ali dibanding toko yang lain. Ia lalu masuk, dengan mata yang terus terarah lurus kedepan, tanpa memandangi kasir atau para pembeli yang terus memperhatikan langkahnya di meja pembayaran. Ia terus berjalan menuju rak B3, rak yang menurut tulisan diatasnya adalah rak untuk “Popok & Perlengkapan Bayi”. Bergerak untuk pertama kalinya, bola matanya yang berwana biru itu tertunjuk pada rak popok. Tangan putihnya lalu bergerak perlahan mengambil satu pak popok bayi berwarna biru, tanpa memperhatikan bungkusan-bungkusan popok merek lain yang banyak disusun disana. Entah karena ia sudah tahu merek popok yang akan dibelinya dari awal atau memang ia diperintahkan untuk membeli merek “biru” yang sekarang dipegangnya. Langkah gontainya lalu kembali terayun, menuju meja kasir. Ia mengantri, sementara didepannya dua atau tiga ibu-ibu yang sudah mengantri sebelumnya sibuk mendiskusikan sesuatu yang sepertinya tentang anak yang mengantri hanya beberapa senti dari mereka.

Tanpa sadar kalau anak itu mendengar diskusi mereka, kata demi kata terlontar dari mulut mereka. Mereka berbicara tentang bagaimana anak itu kabarnya adalah anak dari salah satu koruptor kaya-raya yang sekarang ditahan dan sedang diadili. Mereka berbicara tentang bagaimana harta anak itu dan keluarganya telah disita, dihabisi dan dikosongkan dari rumah mereka yang besar di tengah megahnya kota Jakarta. Diskusi mereka mendadak terhenti oleh suara telepon genggam di belakang mereka. Sekejap mata mereka memandang kebalik punggung mereka sendiri, terkaget dengan adanya anak yang mereka gosipkan dari tadi. Anak itu dengan lunglai merogoh kantung celananya. Ditariknya sebuah telepon genggam yang sepertinya adalah sisa-sisa dari kejayaan keluarganya yang seluruhnya dipenjara karena korupsi. Telepon genggam itu kini terpegang erat di tangannya, terarah ke telinga yang baru saja dipaksa mendengar keburukan keluarganya sendiri dari mulut orang lain. “Halo?” katanya lemah. Suaranya, yang baru terdengar sejak tadi, sedikit menggetarkan hati para ibu didepannya. Mereka merasa bersalah, membicarakan sesuatu tentang keluarga seorang anak yang sekarang kelihatan begitu lemah. Anak yang umurnya tidak lebih dari 13 tahun tapi tidak kurang dari 11 tahun itu seperti sudah ditarik semua semangatnya. Ia menjawab dengan nada datar, seakan tidak ada lagi yang ia tunggu atau ia harapkan. “Aku di pasar dek. Iya, kakak sebentar lagi pulang. Adek yang tenang, banyak minum” katanya lemah. Nadanya sedikit menyemangati, yang kelihatannya ditujukan untuk adiknya. Ibu-ibu didepannya, terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, padahal terus mendengarkan. Mereka sepertinya telah membuat kesimpulan masing-masing setelah mendengar pembicaraan yang hanya bertahan lima menit itu. Selesai bicara, anak yang tadi mereka bicarakan dengan berapi-api itu kini kembali ke keadaan sebelumnya, tidak mengeluarkan suara apapun kecuali nafasnya yang sesekali dihembuskan seperti orang yang sedang menahan suatu beban berat.



Hosted in Dracoola Multimedia