Setengah Mateng!

Something about politics, life, indefinite question of values on debatable morals
 
Plane
 
 

Kerikil Jangan Ditendang

stone

Ini cuma sekedar catatan pendek aja, sekalian pesan untuk masa depan, bertepatan dengan hari ini gw genap setahun lebih tua. :D

Kadang masalah begitu banyak,ribuan kerikil setiap hari datang. Yang kita lakukan adalah tendang, tendang, dan ia pun menjauh, dan hilang. Kita pun dibuat lupa, walau untuk sementara.

Kalau di jalanan mungkin gak masalah. Tapi kerikil yang ini berbeda. Yang ini punya kemampuan khusus menggandakan diri kalau ditendang. Dan area tendangannya pun segi empat, seperti kotak. Jadi mereka selalu terperangkap di pojok, membukit membentuk gunungan.

Lalu tiba-tiba kita mencetak prestasi besar, sebesar topan badai. Kerikil-kerikil itu pun hilang terhisap didalamnya, tidak jelas, menghitam dan berputar. Kita tenang, karena entah kenapa topan ini terasa seperti semilir sejuk yang paling parah hanya berakibat rambut berantakan.

Sayangnya, semua topan tentu ada habisnya.

Dan saat akhir itu datang, segala kerikil akan jatuh ke segala penjuru, menyerang, menghujam dan melukai kulit terluar kita.

Karena itu, gw pikir, saat kerikil bermunculan, jangan fokus pada menendang, fokus pada membuang. Atau malah jangan membuang, tapi daur ulang. Cari cara mengubah masalah menjadi anugerah.

Sehingga paling gak tahun depan jalan hidup gw gak akan dipenuhin kerikil-kerikil lagi. :)

 
 

Ibu Prita dan Demokrasi Setengah Mateng

Sementara yang kaya, yang merasa memimpin negara sibuk menyerang satu sama lain, seorang ibu dengan dua anak yang masih berusia balita dipenjara hanya karena komplain yang ia sebarkan lewat milis. Ia terjerat Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang no. 1 1 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lagi-lagi pasal pencemaran nama baik.

Terlepas dari isi komplain dan bagaimana ia menyampaikannya, rasanya ini adalah suatu perlakuan yang berlebihan. Sebaliknya tidak berlebihan kalau kita membandingkan tuntutan RS Omnni pada ibu Prita bagai Israel yang mengirimkan seluruh pasukannya ke Palestina untuk menghabisi pejuang Hamas yang tanpa henti mengirimkan roket-roket secara sporadis ke tanah jajahan Israel. Suatu respons yang adalah tanpa rasa kemanusiaan. Tapi legal.

Mungkin komplain ibu Prita berlebihan. Mungkin. Wajar kalau RS Omni, yang pelayanannya dikritik oleh ibu Prita, tersinggung, terlebih lagi kritikan ibu Prita disampaikan di internet, sebuah dunia “baru” yang membuat kritikan bisa dengan mudah menjadi sesuatu yang viral.

Tapi disisi lain wajar juga seorang konsumen merasa tidak puas. Begitu juga dengan terjemahan ketidakpuasan yang, mungkin, jauh dari sempurna. Hak mereka menuntut karena tersinggung, hak kita yang membayar ada dimana? Atau lebih penting lagi, masih perlukah nama baik kita, dan emosi dilindungi dalam undang-undang?

Pasal pencemaran nama baik adalah deja vu sebuah era dimana entitas pemerintahan dipegang oleh sekelompok diktator yang takut istananya dijebol oleh kata-kata, dijebol oleh kritik. Kini saat Istana memang sudah waktunya terjebol oleh kritik, sudah waktunya membuka diri terhadap era kebebasan berbicara dan penghargaan lebih terhadap opini.

UU ITE bukan satu-satunya Undang-Undang yang memiliki delik pencemaran nama baik. KUHP dan UU Penyiaran juga memilikinya. Ibu Prita hanya mengkritik pelayanan rumah sakit, dan kini ia meringkuk di penjara. Ngeri membayangkan kalau mendadak figur otoriter seperti Soeharto naik lagi ke tampuk kepemimpinan dan memutuskan menggunakan 3 amunisi paling elegan yang selalu eksis dalam hukum negeri ini. Menghancurkan kepala garuda dengan cakarnya sendiri.

Suatu waktu pernah ada yang bilang, kita salah dan telah kalah karena menganut Demokrasi. Waktu yang lain banyak yang bersuara, demokrasi telah kebablasan. Dan segenap blogger selalu dengan bangga maju bertahan dan melindunginya. Melindungi Demokrasi, yang selama ini seperti agama kedua blogger sebagai penyuara opini warga. Tapi kini gw akui kedua argumen itu ada benarnya. Karena kita telah salah, kalah, dan harus marah, demokrasi yang kita anut adalah demokrasi setengah-setengah.

If the freedom of speech is taken away then dumb and silent we may be led, like sheep to the slaughter

George Washington

Ayo bergabung di Facebook Cause untuk ibu Prita.

More about Prita:

 
 

Respons Terhadap Artikel Navinot: Mengalahkan Outliers?

drunkbusinessman

Navinot hari ini menulis artikel yang cukup menarik, tentang outliers, sebuah sebutan dalam ilmu statistik yaitu observasi yang hasilnya menyimpang dari semua data yang lain. Sebuah “keajaiban”. Freak of nature. Namun dengan Navinot sebagai sebuah blog yang menulis tentang marketing dan teknologi, tentu dihubungkan dengan kedua ilmu tadi.

Outliers, dalam topik yang diangkat oleh Navinot, adalah sekumpulan orang yang entah muncul darimana, entah bagaimana ceritanya, bisa jadi pemimpin. Pemeran penting dalam suatu bidang kehidupan, yang seakan tumbuh, besar dan dibesarkan dalam lingkungan yang 100% tepat dan membantu peran yang akan mereka jalani di masa depannya. Sebuah kebetulan dan kebetulan,  yang menciptakan kesuksesan.

Dalam judul artikelnya, atau lebih tepatnya, sebagai pertanyaan kritis dari artikelnya, Navinot menanyakan, bagaimana cara mengalahkan outliers? Apakah mungkin, kita mengalahkan orang-orang yang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin?

Jawabannya akan berbagai macam, tentu, sesuai dengan sudut pandang masing-masing pribadi. Tapi ini jawaban gw : Tidak. Tidak bisa.

Loh, kok tidak bisa? Bagaimana mungkin gak bisa?

Click to continue reading “Respons Terhadap Artikel Navinot: Mengalahkan Outliers?”

 
 

Halangan Terbesar SBY – Boediono : Persepsi

boediono

Dan akhirnya pilihan itu pun jatuh pada Boediono. Sang gubernur BI, yang juga mantan Menko-Ekonomi ini, berhasil naik ke permukaan, mengalahkan banyak tokoh politik & akademisi, yang sebelumnya dikaitkan atau diprediksikan menjadi partner SBY, sebagai Calon Wakil Presiden pengganti Jusuf Kalla, yang telah menyebrang dan menjadi calon Presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan pemimpin Partai Hanura dan mantan teman seprofesi SBY, Wiranto.

Menarik sebenarnya memperhatikan atau merenungkan mengapa SBY memilih Boediono, seorang ekonom yang mungkin memiliki electability factor hampir nol di negeri ini. Ok, mungkin tidak benar-benar nol besar, pasti ada yang menyukai apa yang Boediono lakukan saat ia menjabat Menko Perekonomian atau Gubernur BI. Kalangan Profesional dan the well-informed mungkin? Tapi apa kedua kalangan itu, kalangan dengan persepsi politik & ekonomi yang telah terbangun dengan benar, dapat menjadi representasi terbesar rakyat dengan hak pilih di negeri ini?

Rasa-rasanya tidak. Tapi fair rasanya  menyebut mereka sebagai the driving influence. Mereka punya kemampuan untuk menyetir opini, mendebat dan menciptakan counter-argument. Orang-orang yang sadar internet, punya blog & memiliki pengikutnya sendiri, dapat menciptakan kekuatan lebih untuk Yudhoyono. Fakta bahwa ditangan Boediono rupiah terus membaik dan krisis global pun sedikit kita rasakan disini (walau mungkin ini lebih bersifat kebetulan), ditambah dengan beberapa klaim bahwa Boediono dalam tingkat hubungan pribadi adalah seorang yang rendah hati dan ramah, dapat menciptakan publikasi positif untuk keduanya. Ditambah lagi, kali ini kedua pasangan calon pemimpin ini akan berkarakter hampir sama, tidak lagi ada faktor eksplosif dan unpredictability yang dulu dipunyai Jusuf Kalla.

Lonjakan Pencarian nama Boediono di GoogleLonjakan pencarian “Boediono” melawan “Wiranto” di Google.

Itu yang positif. Bagaimana dengan yang negatif? Apakah ada alasan mengatakan Boediono kurang populer di kalangan menengah ke bawah? Jelas. Sudah sebuah fakta umum dan beberapa kali dinyatakan di media bahwa Boediono ekonom yang pintar, tapi kurang pintar dalam menangani ekonomi nyata di pasar tradisional atau sektor riil.

Ditambah lagi Boediono, seperti yang telah disebut sebelumnya, kurang ber-passion dan tidak eksplosif, bahkan hampir tanpa karakter dalam menangani media. Publik di Indonesia yang mayoritas menyebut dirinya wong cilik adalah masyarakat yang menilai seorang tokoh publik atau calon pemimpin lewat caranya berargumentasi atau pernyataan-pernyataannya di media. Boediono? Ia jelas bukan tokoh politik yang penuh retorika. Ia profesional, sehingga pernyataannya selalu tekhnis dan tentang pekerjaannya.

Dengan sedikit bantuan pakar Humas yang baik, musuh politik Indonesia bisa menyerang Boediono sebagai seorang yang tidak terlalu peduli dengan wong cilik. Seorang elitist.

Boediono sebagai Wapres memang sesuatu yang sulit untuk kita bayangkan. Kita selama ini telah dibiasakan melihat figur Partai Politik sebagai pemimpin. Tapi ini adalah satu langkah politik yang positif sebagai pembelajaran Demokrasi di Indonesia. Kita memang membutuhkan pemimpin dari kalangan profesional, yang walau selalu bermasalah dengan persepsi masyarakat, namun bekerja untuk bekerja.

Walau posisi cawapres  pada intinya hanya bersiap kalau-kalau Presiden mendadak tidak dapat lagi menjalani tugasnya sebagai Presiden, di Indonesia siapa yang diatas maka dia bagian dari Ketuhanan. Dengan kultur politik kita yang hampir seperti kultur feodal kerajaan Jawa, Boediono adalah pangeran baru. Apa 2014 ia bisa menjadi Presiden penerus SBY? Selesaikan dulu tantangan pertama sebagai Cawapres : persepsi publik.

 
 

Friend Connect

 

Latest Shout!

  • achmad sholeh: mampir kesini mas .-= achmad sholeh´s last blog ..Kesaktian Pancasila Dan Bela Negara =-.
  • Budi Ridwin: Tulisan yang bagus!! Saya sangat amat Setuju dengan tulisan diatas. boleh saya sebarkan juga lewat blog...
  • eorllandso: exempt tar ice geological agricultural consensus africa [url=http://www.archive.org]va riations cost...
  • pututik: i still don’t understand how to used mycontextual regarding Amazon affiliates .-= pututik´s last...
  • Pembuat Theme: Wah…..gawat neh….kebeasan berpendapat kita hilang
 
 

Afiliasi

 

Meta

Display Pagerank

Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory Pageboss.com

hits counter

 
 
 
 
Ignaty Nikulin