
Dan akhirnya pilihan itu pun jatuh pada Boediono. Sang gubernur BI, yang juga mantan Menko-Ekonomi ini, berhasil naik ke permukaan, mengalahkan banyak tokoh politik & akademisi, yang sebelumnya dikaitkan atau diprediksikan menjadi partner SBY, sebagai Calon Wakil Presiden pengganti Jusuf Kalla, yang telah menyebrang dan menjadi calon Presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan pemimpin Partai Hanura dan mantan teman seprofesi SBY, Wiranto.
Menarik sebenarnya memperhatikan atau merenungkan mengapa SBY memilih Boediono, seorang ekonom yang mungkin memiliki electability factor hampir nol di negeri ini. Ok, mungkin tidak benar-benar nol besar, pasti ada yang menyukai apa yang Boediono lakukan saat ia menjabat Menko Perekonomian atau Gubernur BI. Kalangan Profesional dan the well-informed mungkin? Tapi apa kedua kalangan itu, kalangan dengan persepsi politik & ekonomi yang telah terbangun dengan benar, dapat menjadi representasi terbesar rakyat dengan hak pilih di negeri ini?
Rasa-rasanya tidak. Tapi fair rasanya menyebut mereka sebagai the driving influence. Mereka punya kemampuan untuk menyetir opini, mendebat dan menciptakan counter-argument. Orang-orang yang sadar internet, punya blog & memiliki pengikutnya sendiri, dapat menciptakan kekuatan lebih untuk Yudhoyono. Fakta bahwa ditangan Boediono rupiah terus membaik dan krisis global pun sedikit kita rasakan disini (walau mungkin ini lebih bersifat kebetulan), ditambah dengan beberapa klaim bahwa Boediono dalam tingkat hubungan pribadi adalah seorang yang rendah hati dan ramah, dapat menciptakan publikasi positif untuk keduanya. Ditambah lagi, kali ini kedua pasangan calon pemimpin ini akan berkarakter hampir sama, tidak lagi ada faktor eksplosif dan unpredictability yang dulu dipunyai Jusuf Kalla.
Lonjakan pencarian “Boediono” melawan “Wiranto” di Google.
Itu yang positif. Bagaimana dengan yang negatif? Apakah ada alasan mengatakan Boediono kurang populer di kalangan menengah ke bawah? Jelas. Sudah sebuah fakta umum dan beberapa kali dinyatakan di media bahwa Boediono ekonom yang pintar, tapi kurang pintar dalam menangani ekonomi nyata di pasar tradisional atau sektor riil.
Ditambah lagi Boediono, seperti yang telah disebut sebelumnya, kurang ber-passion dan tidak eksplosif, bahkan hampir tanpa karakter dalam menangani media. Publik di Indonesia yang mayoritas menyebut dirinya wong cilik adalah masyarakat yang menilai seorang tokoh publik atau calon pemimpin lewat caranya berargumentasi atau pernyataan-pernyataannya di media. Boediono? Ia jelas bukan tokoh politik yang penuh retorika. Ia profesional, sehingga pernyataannya selalu tekhnis dan tentang pekerjaannya.
Dengan sedikit bantuan pakar Humas yang baik, musuh politik Indonesia bisa menyerang Boediono sebagai seorang yang tidak terlalu peduli dengan wong cilik. Seorang elitist.
Boediono sebagai Wapres memang sesuatu yang sulit untuk kita bayangkan. Kita selama ini telah dibiasakan melihat figur Partai Politik sebagai pemimpin. Tapi ini adalah satu langkah politik yang positif sebagai pembelajaran Demokrasi di Indonesia. Kita memang membutuhkan pemimpin dari kalangan profesional, yang walau selalu bermasalah dengan persepsi masyarakat, namun bekerja untuk bekerja.
Walau posisi cawapres pada intinya hanya bersiap kalau-kalau Presiden mendadak tidak dapat lagi menjalani tugasnya sebagai Presiden, di Indonesia siapa yang diatas maka dia bagian dari Ketuhanan. Dengan kultur politik kita yang hampir seperti kultur feodal kerajaan Jawa, Boediono adalah pangeran baru. Apa 2014 ia bisa menjadi Presiden penerus SBY? Selesaikan dulu tantangan pertama sebagai Cawapres : persepsi publik.